Senin, 11 November 2019

Narasi Negarawan Muda: Peran Pemuda dalam Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (RRLI) Jakarta 1945


Pendahuluan
            Pada Agustus-September 1945, Indonesia tengah mengalami euforia kebangkitan semangat pemuda[1] yang sedang sangat antusiasnya mengisi kemerdekaan yang baru terjadi. Pemuda terpicu untuk mengambil peran dalam kemerdekaan itu. Salah satu perannya ikut terlibat dalam peristiwa Rapat Raksasa di Lapangan Ikada (RRLI). Momentum ini dinilai penting dan berpengaruh luas karena pertama kalinya dari pemerintah Republik Indonesia bertemu langsung dengan rakyatnya. Semua itu terselenggara dengan aman, tertib, dan terkendali tidak luput dari peran pemuda.
Sungguh sulit dibayangkan bagaimana dinamisnya gerakan pemuda Indonesia pada momentum RRLI ini. Hal itu dilakukan agar proklamasi kemerdekaan yang telah terjadi tidak dianggap berlalu begitu saja. Maka perlu menyadarkan masyarakat bahwa Indonesia kini telah merdeka. Rapat itu direncanakan oleh para pemuda dalam Komite van Aksi (KvA) di Jakarta.
Jakarta sebagai kota pendidikan yang cukup maju saat itu di huni oleh generasi muda Indonesia yang cerdas lagi aktif dari berbagai daerah. Meskipun berlatar daerah berbeda mereka bersatu dalam sejumlah organisasi. Dalam KvA setidaknya mereka terdiri dari tokoh dan beberapa kelompok pemuda yang berpengaruh dalam RRLI.


Tokoh dan Kelompok Pemuda Jakarta
            Tokoh dan kelompok pemuda tersebut diantaranya Sutan Syahrir, Sukarni, Kelompok Menteng 31, dan Asrama Indonesia Merdeka. KvA ini awalnya bermarkas di Prapatan 10 yang menjadi pusat koordinasi antara tokoh dan kelompok pemuda saat itu. Kemudian sempat pindah ke Menteng 31 karena terjadi perbedaan pendapat.
            Sutan Syahrir adalah salah seorang tokoh yang cukup populer saat itu. Kehadirannya kerap diharapkan dalam berbagai sidang dan forum. Selain wawasan juga tindakan Syahrir yang tangkas tidak mengherankan jika dari-nyalah informasi kekalahan Jepang menjadi viral saat itu.
            Selain Syarir juga terdapat kelompok pemuda yang bertempat di asrama Menteng. Pada awalnya kelompok ini dibentuk dengan kerjasama Sendenbu[2] bernama kelompok “Asrama Angkatan Baru”, namun lebih dikenal kelompok Menteng 31 karena asrama sempat dibubarkan namun tetap menjadi tempat jaringan  informasi. Kelompok ini mengambil peran cukup strategis dalam merumuskan RRLI. Beberapa anggotanya terdiri mahasiswa fakultas hukum dan aktifis muda pada umumnya.[3]
            Dalam kelompok Menteng 31 terdapat tokoh-tokoh yang kemudian memiliki pengaruh dan jabatan penting. Diantaranya adalah Sukarni, Aidit, Chaerul Saleh, A. M. Hanafi dan Ismail Widjaja. Sebagai anggota dari asrama mereka dibekali berbagai ilmu yang di isi oleh tokoh-tokoh bangsa.[4]
            Selain kelompok Menteng 31 juga terdapat asrama lainnya. Seperti Asrama Badan Permusyawaratan Pelajar Indonesia (Baperpi) yang berlokasi di Cikini 71 dan asrama mahasiswa “Ika Daigaku” di jalan Prapatan 10.  Bedanya dengan asrama Baperpi, asrama mahasiswa “Ika Daigaku” terdiri dari mahasiswa kedokteran dan farmasi. Tokohnya adalah Djohar Nur sebagai ketua dan salah satu anggotanya yang juga aktifis Menteng 31 adalah Chaerul Saleh. 
Berdirinya Komite van Aksi
            Komite van Aksi (KvA) didirikan oleh kelompok Menteng 31 dan kelompok Asrama Indonesia Merdeka. Sebagai badan kompromi propaganda mempertahankan semangat proklamasi di tengah masyarakat. Pionirnya adalah Adam Malik dan Sukarni yang kemudian menyusun struktur organisasi seperti berikut:
Ketua                          : Sukarni (Menteng 31)
Wakil ketua I             : Chaerul Saleh (Menteng 31)
Wakil ketua II             : Wikana (Asrama Indonesia Merdeka)
            Adapun bidang-bidang KvA sebagai berikut:
1.      Bidang politik: Adam Malik
2.      Bidang ketentaraan: Eri Sudewo
3.      Bidang Pemerintahan: Soediro
4.      Bidang dana dan usaha: Soepeno
Setiap bidang memiliki program yang kemudian disiarkan kedalam bentuk selebaran pamflet bernama “Suara Rakyat”. Isi pokok selebaran tersebut adalah:
1.      Negara kesatuan Republik Indonesia telah berdiri tanggal 17 Agustus 1945 dan rakyat telah merdeka, bebas dari pemerintahan bangsa asing.
2.      Semua kekuasaan harus ditangan negara dan bangsa Indonesia
3.      Jepang sudah kalah, dan tidak ada hak untuk menjalankan kekuasaannya lagi di atas bumi Indonesia.
4.      Rakyat Indonesia harus merebut senjata dari tangan Jepang.
5.      Segala perusahaan (kantor-kantor, pabrik-pabrik, tambang dan perkebunan-perkebunan) harus direbut dan dikuasai oleh rakyat Indonesia/terutama oleh kaum buruh dari tangan Jepang.
Dari selebaran tersebut jelas bahwa kehendak pemuda KvA ingin merebut kekuasan dari Jepang. Hal ini lah yang kemudian menyebabkan untuk kesekian kalinya pemuda dan golongan tua berbeda pendapat. Hal itu tertuang ketika pemuda mulai ingin membahas hal ini dengan Soekarno. Pada 19 Agustus, selepas Soekarni menghadiri sidang PPKI beliau menyempatkan diri memenuhi undangan pemuda di Prampatan 10.

Perdebatan
Pada pertemuan antara Soekrano yang didampingi oleh Muhammad Hatta dan Kasman Singodimedjo dihadapkan oleh keinginan pemuda untuk segara membentuk tentara. Pembentukan tentara dengan tujuan realisasi rencana pengambilan alih kekuasaan dari Jepang. Perdebatan terjadi, Adam Malik (golongan muda) lebih pada upaya kekerasan jika memang diperlukan, sedangkan Soekarno (golongan tua) menghendaki melalui perundingan dengan pihak Jepang.
Besoknya, Jepang telah men”cium” ada ketidak-beresan terhadap rencana pemuda. Jepang lebih dulu mengantisipasi hal tersebut dengan melucuti senjata baik dari Peta maupun Heiho. Peta dan Heiho dipulangkan dengan tangan kosong dan menyurutkan rencana pemuda tersebut.[5]
Lusanya, 22 Agustus kembali pemuda dan PPKI mengadakan pertemuan di Prapatan 10. Kali ini agenda yang dibahas adala pembentukan Komite Nasional. Beberapa pemuda tidak sepakat wadah PPKI, karena lembaga bentukan Jepang. Pemuda berharap harus ada lembaga yang membantu presiden dan wakil presidennya dalam mengawal revolusi lepas dari peran Jepang.
Soekarno menerima masukan tersebut dan menerbitkan dalam sebuah pidato pada esok harinya. Badan Keamanan Rakyat (BKR), Komisi Nasional Indonesia (KNI), dan Partai Nasional Indonesia (PNI) dinyatakan berdiri. Sedangkan BKR berfungsi menjaga keamanan yang terkoordinasi hingga ke daerah dibawah KNI daerah masing-masing. Hal ini guna mengantisipasi konflik horizontal dengan tentara Jepang.
Hasil kebijakan Soekarno tersebut terdapat pro dan kontra dalam tubuh pemuda. Satu sisi beranggapan Soekarno kurang tegas dilakoni oleh Sukarni dan Chaerul saleh. Pasalnya, mereka sangat mendorong agar yang dibentuk adalah tentara, bukan sekedar badan keamanan. Sedangkan di sisi lain yaitu Eri Sudewo berpendapat berbeda. Eri beranggapan tindakan Soekarno telah tepat.
Tidak berakhir sampai di situ, Sukarni dan Chaerul Saleh memisahkan diri dari Prapatan 10. Disamping itu juga tetap memakai nama KvA namun berpusat di Menteng 31. Meskipun diantara mereka berbeda pendapat namun masih berupaya satu tujuan untuk memperkuan posisi kemerdekaan Indonesia baik secara internal maupun pada pihak asing.
Mereka kembali bersatu dalam upaya merencanakan RRLI yang awalnya akan dilaksanakan pada 16 September. Hal itu dilatari oleh suasana semakin genting. Jepang menyebarkan pamflet tentang larangan demo dan berkumpul lebih dari lima orang. Atas kondisi tersebut Soekarno berpendapat agar penyelenggaraan RRLI ditunda.
Adapun dipilihnya agenda RRLI ini tidak datang dengan sesuatu yang baru. Pada akhir Agustus maupun pertengahan bulan September adalah moment yang biasanya digunakan untuk hari-hari kenegaraan. Sepertinya tanggal 31 Agustus biasanya dilakukan perayaan atas hari kelahiran ratu Belanda, Wilhemina. Selain itu 11 September 1944, rapat raksasa pernah dilakukan untuk menyampaikan pada khalayak perihal janji kemerdekaan dari menteri Koiso.
Begitu pula moment proklamasi juga rancananya di Ikada namun dipindahkan ke kediaman Soekarno, jalan Pegangsaan Timur No 56. Dan yang terbaru saat itu adalah rapat raksasa di Ikada 31 Agustus oleh Suwiryo yang mengadakan pengucapan ikrar setia dari pegawai pemerintah pada Republik Indonesia. Jadi secara lokasi lapangan Ikada/lapangan gambir tidak diragukan lagi menjadi pusat dari antusias warga pada masa itu.
Namun, penyelenggaraan RRLI mendapat hambatan dari Jepang. Seperti Sebelumnya Jepang telah menyebarkan selebaran berisi tentang pelarangan melakukan kegiatan yang memicu situasi chaos. Oleh karena itu Jepang melakukan beberapa upaya yang diantaranya meminta pihak rapublik yaitu Soekarno membatalkan RRLI dan mengerahkan aparat keamanan Jepang untuk berjaga.[6]
Soekarno menanggapi permintaan Jepang untuk membatalkan rencana itu dalam rapat besoknya jam 10.00. Namun, pemuda dalam hal ini inisiatif Sukarni mengambil tindakan berbeda. Dalam siaran radio yang dia sampaikan bahwa RRLI tetap dilaksanakan. Penyebaran informasi tidak hanya wilayah Jakarta tetapi hingga Bogor dan Sukabumi.

Hari yang Dinantikan
Pada paginya hari H, rakyat sudah pada berdatangan.dan tentara Jepang sudah siap sedia di sekitar lapangan Ikada. Upaya Jepang dalam menghalau kedatangan rombongan demi rombongan massa itu mengalami kesulitan. Walaupun ada yang dicegah dan diingatkan bahwa acara dibatalkan, namun tidak mengubah antusias warga untuk tetap datang dan berkumpul.
Sementara rapat kabinet yang dimulai sejak pukul 10.00 tidak membuahkan kesepakatan membatalkan RRLI. Namun permasalahannya adalah larangan Jepang dan upaya untuk terciptanya ketertiban umum. Mencegah terjadinya konflik vertikal dengan tentara Jepang adalah pertimbangan utama dalam rapat tersebut. Mengingat jika terpicu konflik maka korban akan banyak yang berjatuhan dari tangan rakyat.
Meskipun pada dasarnya Soekarno tidak menolak RRLI ini, hanya saja sangat sukar untuk dipenuhi baik tentang keamanan maupun larangan tegas dari Jepang. Namun hingga pukul 15.00, kondisi massa belum meninggalkan dilapangan Ikada. Hal ini memaksa Jepang untuk memberikan izin pada Soekarno untuk menghadiri RRLI sekedar untuk membubarkan massa. Jepang memberi waktu 15 menit agar Soekarno membubarkan massa. Selain itu pemuda Menteng 31 beserta lapisannya seperti Barisan Pelopor dan Angkatan Pemuda Indonesia memberikan jaminan keselamatan pada Soekarno-Hatta dan segenap menterinya.[7]
Atas dukungan itu akhirnya Soekarno menyanggupi dan menghadiri RRLI dengan kawalan dari para pemuda. Kondisi lapangan Ikada yang saat itu sudah ramai oleh rakyat dari berbagai wilayah bersorak gembira atas kedatangan Soekarno. Dua mobil disertai pengawalan motor sebagai pembuka jalan cukup rapi dan tertib mengantarkan Soekarno ke podium. Waktu 15 menit yang diberikan Jepang digunakan Soekarno hanya 5 menit dalam pidatonya yang berisi:
“Saudara-saudara harap tinggal tenang dan tentram. Dengarkanlah perkataan  saya. Sebenarnya Pemerintah Republik Indonesia telah memberikan perintah untuk membatalkan rapat ini, tapi karena saudara-saudara memaksa, maka saya datang ke sini lengkap dengan menteri-menteri Pemerintahan Republik Indonesia. Saya bicara sekarang sebagai saudaramu, bung Karno. Saya minta saudara-saudara tinggal tenang dan mengerti akan pimpinan yang diberikan oleh Pemerinatahan Republik Indonesia.
Saudara-saudara, saya sebagai presiden, saudara Hatta sebagai wakil presiden, menteri-menteri, kita semua bersedia bertanggung jawab kepada seluruh rakyat Indonesia. Karena itu kami minta kepercayaan rakyat Indonesia.
Kita sudah memproklamirkan kemerdekaan Indoensia. Proklamasi itu, tetap kami pertahankan, sepatahpun tidak kami cabut. Tetapi dalam pada itu, kami sudah menyusun suatu rancangan. Tenang, tentram, tetapi tetap siap sedia menerima perintah yang kami berikan. Kalau saudara-saudara percaya kapada Pemerintahan Republik Indonesia, yang akan mempertahankan proklamasi kemerdekaan itu walaupun dada kami akan robek karenanya, maka berikanlah kepercayaan itu kapada kami. Dengan tunduk kepada perintah-perintah kami dengan disiplin.
Sanggupkah saudara-saudara? Perintah kami hari ini, marilah sekarang pulang semua dengan tenang dan tentram; ikutlah perintah presidenmu sendiri tetapi dengan tetap siap sedia sewaktu-waktu.
Sekali lagi saudara-saudara, perintah kami, marilah kita sekarang pulang semua dengan tenang dan tentram; tetapi dengan tetap sedia. Saya tutup rapat ini dengan salam nasional “MERDEKA”.[8]

Dengan begitu berakhirlah rapat raksasa tersebut. Peserta rapat mengiringi kepergian Soekarno meninggalkan lapangan. Iringan tersebut bahkan sampai mobil Soekarno menghilang dari pandangan menuju ke kediamannya di Pegangsaan Timur. Di tengah iringan tersebut terdapat aksi yang heroik dilakukan oleh pemuda Makassar yaitu Kahar Muzakkar. Kahar menghalau bayonet-bayonet[9] Jepang dengan golok ditangannya untuk melindungi Soekarno.
Kehadiran Soekarno memecah suasana namun dapat dikendalikan. Sosok tokoh yang digelari singa podium itu dapat menenangkan rakyat dengan suaranya. Pidato pendek sekitar 5 menit di tengah keramaian massa berhasil menjadi pesan langsung dari pemerintah pada rakyatnya.

Pasca RRLI
Tentu saja pihak Jepang tidak senang dengan terjadinya RRLI ini. Hari berikutnya beberapa markas pemuda digrebek termasuk Menteng 31 oleh tentara Jepang, Kempetai. Beberapa diantara mereka ditangkap dan dibawa ke pejara Bukitduri. Jepang beranggapan biang keladi dari RRLI adalah pemuda Menteng 31 yang masih menyisakan banyak barang bukti seperti pamplet, bendera, spanduk, dan senjata.[10]
Beberapa pemuda yang ditangkap adalah
1.       Darwis
2.      A.H. hanafi
3.      Aidit
4.      A. Hanafroni
5.      Siddik Kertapati
6.      Adam Malik
Meskipun masuk penjara pemuda ini tidak luput dari perkembangan informasi perkembangan politik yang semakin memanas. Berkat kecerdikannya, tidak lama berada dipenjara mereka berhasil melarikan diri.

Keseimpulan
            Pelaksanaan RRLI adalah momentun penting dalam bangsa ini. Banyak narasi yang terjadi dalam mengukuhkan semangat rakyat. Meskipun tidak dalam satu pendapat namun satu cita dalam memperjuangkan kemerdekaan. Keberanian pemuda bukan hanya terhadap golongan tua namun juga pada Jepang. Berkat keberanian itulah pemuda mengagendakan RRLI sebagai agenda kontra-strategis untuk memperkuat proklamasi.
            RRLI berjalan sesuai rencana walau mendapat hambatan dari Jepang. Di sini terlihat bahwa jiwa kenegarawanan pemuda Indonesia tidak mudah menyerah atau menciut oleh gertakan-gertakan pihak Jepang.
             


[1] Muda atau pemuda di sini adalah kalangan generasi yang berumur 30 ke bawah.
[2] Badan propaganda Jepang
[3] Hairkoto Hatmanto, Skripsi: “Rapat Raksasa di Lapangan Ikada 19 September 1945 Pemuda dan Masalahnya” (Depok:UI, 1983), Hal. 6.
[4] Soekarno termasuk salah satu tokoh yang ikut mengisi materi ilmu Politik untuk kelompok Menteng 31 ini.
[5] Hairkoto Hatmanto,skripsi, op. Cit.
[6] S. Brata, “Persiapan dan Tindakan”, Merdeka, 19 September 1977.
[7] Ahmad Subardjo Djoyoadisuryo SH, “Mengenang Rapat Raksasa 19 September 1945”, Merdeka, 17 September 1978”.
[8] Asa Bafagih, “Atoom Rakyat Indonesia Hampir Meletoes! Mobil Berlapis Badja Dan tentara Nippon Tidak Berdaja”, laporan wartawan Antara-Domei, 20 September 1945.
[9] Bayonet sejenis belati yang dipasang diujung senapan. Kala itu jepang biasanya menggunakan bayonet untuk membubarkan kerusuhan.
[10] Sudiyo, “Belum Banyak Kalangan Generasi Muda Mengenal Gedung Menteng 31”, Berita Buana, 11 Juni 1976.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar