There was an error in this gadget

Wednesday, 15 October 2014

RESENSI BUKU DARI GESTAPU KE REFORMASI SERANGKAIAN KESAKSIAN






Identitas Buku

Judul buku      : Dari Gestapu Ke Revolusi Serangkaian Kesaksian
Pengarang       : Salim Said
Penerbit           : Mizan
Kota terbit       : Jakarta
Tahun terbit     : 2013
Tebal               : 587 halaman + cover

Sinopsis

Buku ini dirancang seperti membawa kembali ingat kita tentang peristiwa Gestapu dan Revolusi. Dua buah peristiwa penting yang berkaitan dengan perubahan politik Indonesia. Peristiwa itu dimotori oleh beberapa belah pihak dan serta melibatkan tokoh-tokoh penting. Terdapat beberapa kesaksian tokoh terkait dalam kedua peristiwa tersebut berhasil dirangkum dalam buku ini. Sudut pandang  beberapa para tokoh tersebut dan analisis dari penulis mampu menggambarkan bantuk kejadian pada masa itu.
Sebagai sebuah bacaan sejarah, buku ini menjadi referensi utama untuk dibaca terutama terkait Gestapu. Salim Said dengan latar belakang wartawan memberikan gambaran informatif dari berbagai sumber wawancara langsung tentang kesaksian sejarah itu. Banyak hasil wawancara Salim dengan tokoh-tokoh sejarah bahkan salah satunya liputan Salim dengan Pramoedya di Pulau Buru. Sosok Pramoedya tidak asing lagi dalam dunia politik PKI apalagi sikapnya yang berani terhadap musuh-musuh PKI.
Penulis secara pribadi memiliki kedekatan dengan tokoh-tokoh militer mendapatkan informasi lebih kongkreat terkait peristiwa Gestapu dan Reformasi seperti Kolonel Sarwo Edhi dan Jendral Soegandhi yang berperan dalam operasi militer pada saat meletusnya Gestapu.
Bagian lain buku ini menceritakan perjalanan hidup dari seorang Salim Said ketika harus merantau ke Jawa untuk memenuhi ambisinya sebagai seniman dan akademisi. Meninggalkan kampung halamannya Parepare dan berkiprah dalam dunia seni dan akademi. Sempat menikmati pendidikan di Akademi Teater National Indonesia dan kuliah di Universitas Indonesia bidang studi psikologi dan Sosiologi.
Menghadapi kehidupan sukar ditengah keterpurukan ekonomi dan masa-masa sulit dalam perkuliahan menjadi kenikmatan tersendiri. Salim berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mengambil kerja sambilan sebagai wartawan dan penulisn resensi film Indonesia  Tempodi. Berawal dari seniman kemudian wartawan dan kritikus film membawa Salim Said menjadi orang yang multitalenta dikemudian hari.
Kehidupan sebagai mahasiswa UI, Salim aktif dalam organisasi KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) sebagai kepala biro radio pada biro penerangan. Keterlibatannya dalam dunia penerangan terutama radio membawa Salim ikut mengelola Radio Ampera di Jakarta dan mendirikan Radio Ampera di Magelang.
Perjalanan pendidikan Salim Said terus berkibar hingga negeri seberang dengan mengambil pendidikan magister dan doktor di Ohio Sate University,Athens, Ohio Amerika Serikat. Pemuda yang dulu sempat tidak memiliki keinginan melanjutkan pendidikan namun memutar arahnya pikirannya untuk kembali menekuni bidang seni dan politik di universitas tersebut.
            Secara umum buku ini membahas berbagai kesaksian sejarah tetapi juga termasuk kesaksiannya sendiri dalam memori-memori kehidupan pribadi penulis. Namun buku ini dalam penyajiannya menarik sehingga cerita yang dibawakan menjadi mengalir dan mudah dipahami.

Kritik
           

Beberapa hal patut diperhatikan dalam tulisan ini adalah kesaksian dan analisa Salim Said terkait Gestapu. Terlalu berat untuk menyatakan adanya usaha pendaulatan dalam tubuh militer angkatan darat dengan melibatkan beberapa tokoh PKI. Terjadinya suatu kecelakaan dalam operasi Gestapu dan unsur kesengajaan menghapus jejak Gestapu.
            Sebagai sebuah partai politik besar seperti PKI kemudian dilenyapkan oleh gerakan anti-PKI dan pihak nasionalis menjadi sesuatu tanda tanya terutama perancangnya dan penggeraknya. Tidak mungkin Gestapu dinilai kegagalan sedangan berakhirnya PKI merupakan suatu keberhasilan. Tidak hanya PKI bahkan Sukarno turun dari jabatan. Naiknya Suharto menjadi presiden mengalahkan berbagai lawan politinya dan Indonesia jatuh pada pelukan barat. Terlalu sulit untuk dibilang ini sebuah operasi yang gagal atau lebih cocoknya suatu keberhasilan. Sebagai sebuah usaha penumpasan ideologi, Gestapu dinilai sukses hing mencabut keakar-akarnya.
            Niat Sokarno terhadap kesatuan bangsa Indonesia tercermin dari pemahaman Nasakom-nya. Suatu bentuk keinginan kehidupan berdamai antar tiga ideologi bangsa yaitu Nasionalis, Agama, dan Komunis. Namun pemahaman tersebut tidak dipahami dengan bijak terutama oleh pihak komunis dan anti-komunis. Sehingga dengan kemungkinan besar terlibat barat komunis dalam tubuh PKI berhasil disingkirkan.

Kekurangan dan Kelebihan

            Sebagai sebuah sejarah buku ini memiliki kekurangan terutama informasi dari pihak PKI. Beberapa tokoh simpatisan komunis tersaji dalam buku ini tapi bagaimana dengan tokoh PKI sendiri terhadap kesaksiannya tentang peristiwa Gestapu. Sebaliknya dalam menggambarkan kegemparan dari chaos pada masa itu mampu dibawakan dalam buku ini.

Saran

            Saran terbaik pada para kalangan akademisi untuk segera memiliki buku ini sangat berguna terutama bagi kalangan sejarawan, seniman, kritikus film, dan politisi. Banyak aspek kehidupan sehingga menjadi buku ini lebih hidup dan mudah dipahami.
 



 #ResensiGestapukeReformasi

Tuesday, 3 June 2014

Islam dan Muslim




Islam mengajarkan banyak hal tentang kehidupan untuk kemudahan di dunia dan keselamatan di akhiat. Berbagai kemudahan itu tidak luput dari dalam mempelajari Islam sendiri. Sesungguhnya mempelajari Islam merupakan kenikmatan dalam beragama dan indahnya agama ketika di pelajari terpancar pada kepribadiaan manusia. Tentu hal ini tidak banyak dari orang muslim untuk mempelajarinya apalagi bergelut dibidang ini.

Persepsi terbangun ditengah masyarakat cendrung salah terhadap Islam apalagi masyarakat non-muslim. Pemahaman secara teknis terhadap Islam banyak yang mereka abaikan malah dipandang tidak penting padahal itu kunci dari keimanan. Tidak heran jika non-muslim tidak tertarik dengan Islam karena sebagian banyak umat muslim tidak menerapkan Islam, tidak mempelajari Islam, dan tidak pula berkumpul dengan orang-orang soleh. Hal ini membuat non-muslim terkadang memandang Islam lewat prilaku muslim yang tidak menerapkan Islam sehingga membuat salah persepsi tentang Islam itu sendiri. Tidak jarang hal ini terjadi dilingkungan kita ditambah lagi penguasa informasi masal dikuasai oleh orang muslim yang tidak Islam atau oleh orang non-muslim sendiri. 

Islam sesungguhnya tidak ada dalam kehidupan saat ini tidak pula ada pada ustadz-ustadz, atau kiyai-kiyai, bahkan ulama sekalipun. Islam telah lama telah lama terkubur waktu dan hanya tinggal peninggalan-peninggalan dalam buku-buku sejarah. Islam menjadi sesuatu yang langka saat itu tetapi landasan dalam bentuk sistem masih ada dan setiap muslim atau non-muslim dapat menikmat Islam saat itu. Sedangkan saat ini tidak ada landasan Islam yang dapat menyelamatkan kita dari hukum Islam dan tidak ada satupun yang kita makan terlepas dari luar koridor Islam. 

Akar dari Islam adalah syariat Islam yang menjadi landasan hukum terhadap muslim maupun non muslim. Syariat Islam tidak mungkin dapat diterapkan tanpa adanya pemerintahan Islam, maka dari itulah pemerintahan Islam berakhir maka Islam pun ikut berakhir. Tiada Islam tanpa syraiah, tiada syariah tanda pemerintahan Islam (khilafah).

Tidak ada jalan pintas dalam menerapkan syriat Islam apalagi dalam membantuk suatu pemerintahan Islam. Membutuhkan proses dan penyampaian pendidikan pada masyarakat yang lama apalagi ditengah godaan dunia tidak Islami, manusia dilenakan dengan harta dan kekuasaan. Tidak bisa dipastikan setiap muslim mau menerapkan syariat Islam karena terkadang mereka memiliki keimanan yang lemah terhadap Islam.

Monday, 26 May 2014

FANATISME DAN PERSAUDARAAN SESAMA MUSLIM



Suatu keberkahan luar biasa Islam datang ketanah arab sehingga daerah yang terkenal majemuk itu dalam disatukan dengan syraiat Islam. Bentuk kemajemukan pada masa sebelum Islam turun di tanah arab ditandai dengan fanatisme yang terbagun. Fanatisme itu menjadikan bangsa arab hidup dalam kelompok-kelompok diantara mereka seperti terbentuknya khabilah-khabilah berdasarkan garis keturunan. Seseorang yang baik dapat dilihat dari garis keturunannya sedangkan yang mendapat garis keturunannya sehingga menjadi keturunan yang akan terpandang dimata masyarakat.
Setelah Islam datang membawa perubahan dan perubahan mendasar dalam keluarga adalah ikatan syariah. Ikatan lebih kuat dari ikatan persaudaraan bahkan ikatan kekeluargaan sekalipun sehingga tidak jarang dakwah Rasulullah dinilai sihir oleh kaum kafir qurais. Rasulullah memberikan pelurusan dari akidah dan menjalin ikatan tersebut untuk mempererat ikatan sesame muslim. Akibatnya banyak diantara masyarakat qurais yang beriman pada rasulullah secara tidak langsung mengganggu hubungan keluarganya bahkan hubungan persaudaraan dengan kaum kafir qurais. Tapi semua itu konsekuensi yang telah difikirkan matang-matang oleh para sahabat rasul
Terdapat dua point dalam tulisan di atas jika kita cermati yaitu sikap fanatisme bangsa arab sebelum Islam datang dan persaudaraan dengan ikatan akidah. Kedua hal ini memiliki hubungan yang bertolak belakang karena fanatisme bangsa arab datang sebelum Islam diterapkan dan ikatan persaudaraan sesama muslim karena kedatangan Islam. Akan tetapi fonomena ini sangat berhubungan setidaknya mengetahui kita saat ini berada di level mana, apakah level fanatisme atai level ikatan persaudaraan muslim.
Fanatisme atas suatu ras, etnis, bangsa atau negara saat ini merupakan rasa wajar fitrah dan terbagun baik secara sistemik maupun secara propaganda yang berkelanjutan. Seperti hanya dalam keluarga itu menjadi fitrah dan dalam diri kita sendiri terdapat gen yang mempengaruhi perilaku kita termasuk perilaku berkeluarga. Begitu juga dalam lingkup etnis bangsa dan negara, semakin luas cakupannya maka sikap fanatisme tersebut semakin seimbang. Sikap fanatisme keluarga bisa ditularkan pada sikap fanatisme dalam bernegara bahkan ekstremnya bisa membenarkan negara sendiri dan menyalahkan negara lain.
Islam adalah pemikiran ideologis menyeluruh dalam memandang masalah fanatisme. Islam memiliki sikap fanatisme tersendiri tetapi bukan sikap pembeda karena dalam Islam hanya ada dua yaitu muslim dan non muslim. Tentu ikatan satu-satunya yaitu ikatan persaudaraan sesama muslim dan itu adalah sekuat-kuatnya ikatan. Paling kuat bahkan dengan bermodalkan ikatan ini perang Badar dapat dimenangkan oleh umat muslim begitu juga perang-perang lain dimana pasukan kaum muslim sangat sedikit. Kuatnya ikatan ini mengalahkan ikatan ras, etnis, bangsa, bahkan negara.
Ikatan persaudaraan sesama muslim dalam sejarah sangat indah bunyinya dimana terdapat perbedaan pendapat tetapi mereka masih saling menghormati. Perngormatan pada saudara yang muslim walau berbeda pendapat melebihi dari penghormatannya pada non muslim walaupun mereka memiliki pendapat yang sama. Contoh ini dapat kita temukan baik dalam sejarah Rasulullah maupun lingkup kecil dari daerah kita sendiri. Oleh karena itu sadarlah bahwa ikatan persaudaraan ini telah lama kita kesampingkan akibat tingginya egois seseorang terhadap dirinya.
Masih ingatkah kamu runtuhnya kekhalifahan??? Runtuh bukan sekedar runtuh. Karena ada usaha dalam memecah belah yang berkesinambungan dilakukan oleh barat terhadap kaum muslim selama 4 abad lamanya. Proses 4 abad tersebut tidaklah proses yang sebentar tetapi karena adanya peluang bagi kaum kafir sehingga hal itu dapat terjadi. Peluang awal yang dilihat oleh kaum kafir adalah rendahnya kepercayaan antar sesame muslim sehingga tidak heran sedikit demi sedikit kepercayaan kaum muslim beralih ke kaum kafir sedangkan sesame kaum muslim timbul saling kecurigaan.
Cukup pelajaran itu bagi kita karena semua dapat kita jadikan ilmu bermanfaat sehingga tidak menjadi batu sandungan dimasa akan datang. Sebagaimana pun buruknya seorang muslim dalam menggali hukum syrai’ah Islam setidaknya mereka sedang melakukan suatu usaha yang seharusnya hal itu kita dukung dan memberi masukan yang membantunya.
Tingginya fanatisme dan rendahnya ikatan persaudaraan sesame muslim adalah kunci dari keterpurukan umat Islam saat ini. Fanatisme membuat muslim tidak mempedulikan syrariah Islam sedangkan rendahnya ikatan persaudaaraan sesama membuat pemikiran syariat Islam menjadi jumud dan tidak berkembang. Semoga ini menjadi pembelajaran kita bersama.

Thursday, 22 May 2014

SISWI PALESTINA DAN RAZIA


Ini adalah kisah tentang seorang siswi di sebuah sekolah putri di Palestina. Hari itu dewan sekolah berkumpul seperti biasanya. Di antara keputusan dan rekomendasi yang dikeluarkan dewan dalam pertemuan ini adalah pemeriksaan mendadak bagi siswi di dalam aula. Dan benar, dibentuklah tim khusus untuk melakukan pemeriksaan dan mulai bekerja. Sudah barang tentu, pemeriksaan dilakukan terhadap segala hal yang dilarang masuk di lingkungan sekolah seperti hand phone berkamera, foto-foto, gambar-gambar dan surat-surat cinta serta yang lainnya.
Keamanan saat itu nampak normal dan stabil, kondisinya sangat tenang. Para siswi menerima perintah ini dengan senang hati. Mulailah tim pemeriksa menjelajah semua ruangan dan aula dengan penuh percaya diri. Keluar dari satu ruangan masuk ke ruangan lainnya. Membuka tas-tas para siswi di depan mereka. Semua tas kosong kecuali berisi buku-buku, pena dan peralatan kebutuhan kuliah lainnya. Hingga akhirnya pemeriksaan selesai di seluruh ruangan kecuali satu ruangan. Di situlah bermula kejadian. Apakah sebenarnya yang terjadi ?
Tim pemeriksa masuk ke ruangan ini dengan penuh percaya seperti biasanya. Tim meminta izin kepada para siswi untuk memeriksa tas-tas mereka. Dimulailah pemeriksaan.
Saat itu di ujung ruangan ada seorang siswi yang tengah duduk. Dia memandang kepada tim pemeriksa dengan pandangan terpecah dan mata nanar, sedang tangannya memegang erat tasnya. Pandangannya semakin tajam setiap giliran pemeriksaan semakin dekat pada dirinya. Tahukah anda, apakah yang dia sembunyikan di dalam tasnya ?
Beberapa saat kemudian tim pemeriksa memeriksa siswi yang ada di depannya. Dia pun memegang sangat erat tasnya. Seakan dia mengatakan, demi Allah mereka tidak akan membuka tas saya. Dan tibalah giliran pemeriksaan pada dirinya. Dimulailah pemeriksaan.
“Tolong buka tasnya anakku”, kata seorang guru anggota tim pemeriksa. Siswi itu tidak langsung membuka tasnya. Dia melihat wanita yang ada di depannya dalam diam sambil mendekap tas ke dadanya. “Barikan tasmu, wahai anakku”, kata pemeriksa itu dengan lembut. Namun tiba-tiba dia berteriak keras : “Tidak..! Tidak..! Tidak..! ”
Teriakan itu memancing para pemeriksa lainnya dan merekapun berkumpul di sekitar siswi tersebut. Terjadilah debat sengit : “berikan..!” “Tidak..! Tidak..! Tidak..! “
Adakah rahasia yang dia sembunyikan?  Dan apa yang sebenarnya terjadi?
Maka terjadilah adegan pertarungan tangan untuk memperebutkan tas yang masih tetap berada dalam blockade pemiliknya. Para siswi pun terhenyak dan semua mata terbelalak. Seorang dosen wanita berdiri dan tangannya diletakan di mulutnya. Ruangan tiba-tiba sunyi. Semua terdiam. Ya Ilahi, apakah sebenarnya yang ada di dalam tas tersebut. Apakah benar bahwa si Fulanah (siswi) tersebut.
Setelah dilakukan musyawarah akhirnya tim pemeriksa sepakat untuk membawa sang siswi dan tasnya ke kantor, guna melanjutkan pemeriksaan yang barang kali membutuhkan waktu lama.
Siswi tadi masuk kantor sedang air matanya bercucuran bagai hujan. Matanya memandang ke arah semua yang hadir di ruangan itu dengan tatapan penuh benci dan marah. Karena mereka akan mengungkap rahasia dirinya di hadapan orang banyak. Ketua tim pemeriksa memerintahkannya duduk dan menenangkan situasi. Dia pun mulai tenang. Dan kepala sekolah pun bertanya, “Apa yang kau sembunyikan di dalam tas wahai anakku..?”
Di sini, dalam saat-saat yang pahit dan sulit, dia membuka tasnya. Ya Ilahi, apakah gerangan yang ada di dalamnya? Bukan.. Bukan.. Tidak ada sesuatu pun yang dilarang ada di dalam tasnya. Tidak ada benda-benda haram, hand phone berkamera, gambar dan foto-foto atau surat cinta. Demi Allah, tidak ada apa-apa di dalamnya kecuali sisa makanan (roti). Ya, itulah yang ada di dalam tasnya.
Setelah ditanya tentang sisa makanan yang ada di dalam tasnya, dia menjawab, setelah menarik nafas panjang.
“Ini adalah sisa-sisa roti makan pagi para siswi, yang masih tersisa separoh atau seperempatnya di dalam bungkusnya. Kemudian saya kumpulkan dan saya makan sebagiannya. Sisanya saya bawa pulang untuk keluarga saya di rumah. Ya, untuk ibu dan saudara-saudara saya di rumah.  Agar mereka memiliki sesuatu yang bisa disantap untuk makan siang dan makan malam. Kami adalah keluarga miskin, tidak memiliki siapa-siapa. Kami bukan siapa-siapa dan memang tidak ada yang bertanya tentang kami. Alasan saya untuk tidak membuka tas, agar saya tidak malu di hadapan teman-teman di ruangan tadi.”
Tiba-tiba suara tangis meledak di ruangan tersebut. Semua yang hadir bercucuran air mata sebagai tanda penyesalan atas perlakukan buruk pada siswi tersebut.
Ini adalah satu dari sekian banyak peristiwa kemanusiaan yang memilukan di Palestina. Dan sangat mungkin juga terjadi di sekitar kehidupan kita. Kita tidak tahu, barang kali selama ini kita tidak peduli dengan mereka. Doa dan uluran tangan kita, setidaknya bisa sedikit meringankan penderitaan mereka. Khususnya saudara-saudara kita di Palestina yang hingga kini terus dilanda tragedi kemanusiaan akibat penjajahan Zionis Israel.
Baca juga cerita islami lainnya

Wednesday, 21 May 2014

REALITA KEHIDUPAN ANTARA KESALAHAN DAN SISTEM





Suntuk ngeliat lettop mulu dari pagi, ni aku persembahkan sebuah tulisan pencerahan (cieeaaa…..)

Sering tertanam dalam fikiranku ucapan dari teman, kerabat, orang lain, orang asing, pendapat umum dan sebagainya. Kadang ucapannya seakan seperti virus yang merusak sistem imun intelektual saya sehingga selalu saya ingat. Diantara ucapa yang sering saya dengar adalah ucapan menyalahkan, membodohkan, membebankan orang lain dengan suatu pernyataan yang tidak rasional menurut saya. Seperti suatu ketika munif (nama teman saya bukan nama makanan ya….) bilang bahwa orang Indonesia itu saja yang salah, malas, suka begini, suka begitu, begono, begene dan sebagainya. jujur itu pernyataan fakta dan siapapun saya yakin bahwa memandang orang Indonesia begitu. Tapi saya hanya mengingatkan satu hal yaitu sistem. Mereka bodoh karena sistem, mereka malas karena sistem, dan merekan begini begitu karena sistem.
Pernah dengan ungkapan “seseorang menggambarkan keluarganya” artinya perilaku kita dilingkungan masyarakat akan mencerminkan kehidupan keluarga kita. Maka tidak usah heran jika seseorang “blangsatan” di luar maka pasti di dalam keluarganya juga begitu. Atau ungkapan lain seperti “seorang pemimpin dilihat dari keadaan yang dipimpinnya”. Artinya jika menilai seorang pemimpin lihat saja orang yang dipimpinnya itu apakah itu pemimpin negara, pemimpin rumah tangga, atau pemimpin suatu ruang kerja (mandor).
Manusia tidaklah jauh dari pengaruh yang ditularkan oleh penguasa atau pemimpin. Kekuasaan saat ini tidaklah seperti kekuasaan memihak padanya maka tidak heran mereka akan terbengkalai. Jangankan pendidikan atau kesehatan untuk yang akan dimakan besok mungkin mere harus berfikir peras keringat. Anda tahu bagaimana mereka yang hidup jauh dari pusat kekuasaan jika yang dekat saja sudah begini???
Penguasa dalam kehidupan jangan difikirkan hanyalah pemimpin negara atau pemimpin rumah tangga. Kekuasaan saat ini bisa diambil alih oleh orang yang menguasai media sehingga berbagai persepsi data berubah dengan sekejab mata. Yang salah bisa menjadi benar dan benar bisa menjadi salah. Itulah kekuatan penguasa, berkuasa atas nilai yang akan berkembang dalam masyarat dalam bentuk revolusi mental atau moral. Suatu keburukan masa lalu sekarang telah menjadi suatu yang wajar. Maka masih bisakan kita menyalahkan orang Indonesia dalam keadaan seperti ini???
Masih belum paham??
Anda tau sistem? Pada hukumnya sistem selalu mempengaruhi obyek dan jika obyek itu manusia maka sistem juga akan mempengaruhi manusia. Permasalahannya adalah sistem itu memberikan kebaikan atau keburukan. Jika kebaikan maka bersyukurlah dan jika keburukan segeralah keluar dari sistem tersebut. Kemudian apa yang pembuat jugmentasi terhadap suatu nilai yang memberikan kebaikan atau keburukan?? Tidak lain adalah pedoman dari Sang Khalik, Rajanya manusia dan alam semesta ini.
Sistem apa contohnya??
Sistem pemerintahan, sistem sosial, sistem ekonomi, sistem pergaulan, sistem kemanusiaan, dan lain sebagainya. jika saat ini kita sempat menikmati pendidikan dan sadar kita berada siklus sistem rusak maka bersyukurlah. Gunakan kesempatan ini untuk membongkar kerusakan sistem itu sehingga tidak lagi dijadikan sebagai suatu paham yang wajar diterima masyarakat.
Politik barat menjelaskan bahwa jika anda ingin mengubah suatu sistem maka anda harus masuk kedalam sistem dan menjadi penguasa. Dengan begitu anda akan mengubah sistem tersebut seperti yang anda inginkan, pertanyaannya apakah itu berhasil atau pernah berhasil???. Jawabanya “tidak”. Mengubah sistem anda tidak perlu masuk dalam sistem, menjadi penguasa anda tidak harus mengikuti alur sistem, anda hanya perlu menjadi agen perubah dari luar bukan dari dalam.
Keberadaannya dalam sistem hanya akan menjerat anda pada sistem-sistem tersebut tanpa dapat melakukan perubahan. Anda ingin mengganti sistem demokrasi maka anda tidak harus masuk dalam sistem itu begitu juga jika anda ingin mengubah sistem pergaulan dalam masyarakat yang ada saat ini tidak seharusnya anda memasuki agen-agen yang saat itu ada. Cukup dengan berjuang diluar dan jika ada yang sependapat dengan anda maka anda akan menjadi orang beruntung.
“Sesungguhnya kesendirian itu menyedihkan tetapi lebih menyedihkan lagi menerima kemunafikan. Lebih baik saya menjadi orang yang kesepian dari pada berbaur dengan ke munafikan”
Oleh karena itu kita tidak bisa menyalahkan orang lain secara sepenuhnya karena bisa jadi mereka adalah korban dari sistem ini. Mereka miskin karena sistem, mereka tidak berpendidikan pun karena sistem, mereka tidak mendapat pekerjaan karena sistem, hingga mereka tidak bermoral pun merupakan bagian dari sistem. Kita harus berfikir secara terbuka bahwa saat ini tidak ada namanya “kesalahan murni” karena segala sesuatu terjadi kerap hubungannya dengan sistem yang benar tidak berlaku. Akibatnya sistem buruk membuat semua ini terjadi.
Terlepas dari faktor-faktor lain yang tidak berhubungan dengan sistem tidak bisa kita selami lebih jauh karena sistem yang berkembang saat ini seperti kabut tebal yang menutup pandangan kita.