There was an error in this gadget

Saturday, 12 August 2017

KETIDAK-MAMPUAN MANUSIA BERFIKIR TENTANG CIPTAAN YANG LEBIH SEMPURNA

Manusia memiliki kelemahan mendasar atau lebih tepatnya ketidak-bisaan berfikir lebih sempurna dari suatu ciptaan Allah. Pada dasarnya manusia memiliki akal dan fikiran tetapi semua hal itu tidak dapat mendorongnya berkreasi untuk menyaingi ciptaan Allah. Pandangan manusia pada mahkluk lain terlihat dari gambaran alien dari kacamata manusia. Alien dalam pandangan manusia tergambar diantaranya dengan rupa fisik menyerupai manusia, mengerikan, dan tidak beradap.

Alien dalam benak manusia adalah mahluk hidup yang memiliki kehidupan di planet atau bimasakti lain. Alien tersebut tidak mampu digambarkan ke bentuk yang lebih sempurna dari manusia. Karena manusia tidak memiliki bayangan kesempurnaan fisik melebihi fisiknya sendiri. Sehingga terciptalah bentuk alien yang tidak jauh ciri fisiknya dari manusia. Dalam beberapa pandangan umum alien di ibaratkan mahkluk dengan tubuh yang halus dan menyerupai bagian fisik manusia seperti, kepala, dua tangan, dua kaki, dua mata, bahkan bagian tubuh lainnya.

Tubuh alien seperti bentuk manusia yang tidak memiliki baju bahkan seperti keadaan mahkluk buas yang mengerikan. Tafsiran manusia untuk menciptakan mahluk serupa dengan dirinya memiliki kelemahan dalam berfikir tentang kemungkinan kemampuan yang lebih unggul ketika telah menciptakan  teknologi yang jauh lebih canggih. Bagaimana mungkin mahkluk tidak memiliki baju, buas, dan mengerikan memiliki modal menyeberangi angkasa luar diantara jutaan galaxi. Kemungkinan mendasar adalah alien telah memiliki landasan peradaban yang maju baik dalam bentuk individu maupun teknologi. Sehingga tidak mungkin ada cerita alien memangsa manusia sebagai mahkluk yang sama sekali tidak pernah dia kenal.


Semua ini membuktikan bahwa manusia tidak bisa berfikir tentang sesuatu bentuk yang lebih sempurna dari cipta Allah. Bahkan ciptaan imajinasi seperti alien secara tidak langsung menggambarkan ketidak-mampuan manusia dalam berfikir secara pendek yang berdampak terbenturkan suatu kepastian hukum yang sulit dibantah. 

Tuesday, 8 August 2017

TUDING, TUDUH, HUKUM, CARA BARU REZIM DIKTATOR


                Kekacauan pemerintah dalam menjalankan pemerintahan dapat terlihat dari rangkaian upaya dalam pembubaran HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Hampir sebulan lamanya setelah mengeluarkan Perppu, surat pembubaran sama sekali belum diterima artinya secara hukum HTI tidak memiliki syarat cukup untuk mengajukan gugatan hukum MK. Sulit dipercaya, pemerintah seakan-akan tidak punya profesionalitas dalam menjalankan pemerintahan. Ditengah banyak isu negatif lainnya baik itu naiknya tarif dasar listrik, hak angket, kasus ektp, hingga masalah beras pemerintah seakan memiliki segudang “PR” yang harus di tuntaskan.
                Baru-baru ini akan diadakan suatu diskusi tentang listrik yang lebih tepat saya sebut dengan persekongkolan penguasa dengan intelektual. BEM UI dan BEM FT berkolaborasi membuat suatu panggung meluruskan kesepahaman pemerintah yang akan diaminkan oleh lembaga tersebut. Harus melihat jeli di sini, beberapa pekan yang lalu BEM UI datang pada pansus angket kemudian mencak-mencak menolak ruangan diskusi ber-AC dan mewah. Ditambah lagi mereka menginginkan Pansus Angket bicara di lapangan lepas dan diskusi. Tapi coba lihat sekarang, mereka tengah membuat acara dengan mengundang sejumlah petinggi pemerintah termasuk presiden RI di hotel Borobudur, Jakarta. Hotel yang terbilang mewah tersebut serta undangan pada pejabat tinggi negara seolah hal yang biasa bagi mereka ditengah keadaan rakyat yang terancam dengan kemelarat atas kebijakan yang dinilai memberatkan.
Naiknya TDL sebagai tumbal kedaulatan energi negara ini menjadi tema diskusi yang tidak akan mengubah apa-apa terhadap nasib rakyat. Kemana lembaga yang pro rakyat tahun 1998 itu berada? Adakah lembaga di UI yang masih menjadikan ini sebagai masalah atau malah ikut bersekongkol dengan penguasa? Ditengah tanda tanya itu kita melihat ada seakan penyingkiran pihak yang mengkritik pemerintah dan merangkul pihak yang sejalan dengan pemerintah. Seperti HTI dan FPI sebagai hadiah dari abad reformasi ini malah dikriminalisasi. BEM UI dijadikan gandengan karena konsistensi per periode lembaga ini terombang ambing.
Pemerintah seakan ingin menjadikan dirinya sebagai petarung tunggal yang tidak melihat kebawah apalagi ke atas. Inilah yang disebut dengan otoriter pemerintahan yang lebih buruk dari zaman kolonial sekalipun. Indikasinya dilengkapi dengan ambang batas presiden 20-25% sehingga akan menjadi suatu kemungkinan pemerintah periode selanjutnya tidak akan berubah. Hanya tinggal dua kemungkinan yang terjadi pada periode selanjutnya yaitu munculnya gerakan penolakan rakyat atau dibungkamnya kritik rakyat dengan tuduhan tidak Pancasilais serta sanksi pidana. Kondisi bisa jauh lebih parah dari masa Orde Baru karena contohnya untuk anggota HTI saja paling ringan akan kena hukuman 20 tahun penjara.
Gejala-gejala tudingan dan gangguan pada pihak yang berseberangan dengan pemerintah telah terlihat. Beberapa kejadian kriminal tidak asing lagi menghiasi layar kaca kita. Haruskan itu disebut suatu kebetulan? sedangkan tindakan yang mengancam nyawa tokoh tertentu ditakuti oleh pemerintah. Terdapat beberapa kemungkinan yang pemerintah inginkan dari kondisi yang telah terjadi saat ini. Pertama berdamai serta mengabaikan kritik masalah pemerintahan. Kedua mengancam dengan sanksi pidana atau tindakan gangguan/persekusi yang berbahayakan nyawa.

Ingin sekali saya selaku penulis salah dalam menganalisa kondisi politik yang terjadi saat ini. Seandainya pemerintah mengeluarkan pernyataan tentang kondisi saat ini dengan suka cita tentu saya bisa paham dan sadari tindakan yang tengah dilakukan. Tapi ini lah yang terjadi, inilah kondisi yang ada, serta inilah beberapa anlisis keadaan politik dan kemungkinan terbaik untuk kondisi yang akan datang. Selamat datang dunia tuding, tuduh, dan hukum.

FILSAFAT ILMU MERASIONALKAN DENGAN DASAR YANG JERNIH

Orang berfilsafat tidak untuk suatu upaya kesempurnaan ilmu pengetahuan tetapi lebih pada sikap rasionalisasi dengan kapasitas dan basis pikiran yang dia miliki. Filsafat akan menjadi enak dan renyah dipahami jika dalam rasionalisasinya memumpuni bahkan lebihi atau over kapabelitas. Selain itu, basis pikiran sangat penting karena manusia kadang telah terdapat dogma agama dalam dirinya sulit baginya untuk melihat basis luar dari dogma tersebut.Begitu juga beberapa orang yang memiliki basis pandangan materialistik tidak akan paham basis fikiran lainnya. Jadi basis fikiran disini harus bersifat bebas dan lehilangan nafsu mungkin juga fitrah penghambahan.

Apa yang sedang saya bicarakan? Rocky Gerung. Saya sering mencoba mengamati setiap kata-kata dan jalan fikiran yang dia kemukakan. Kesimpulan saya adalah dia (Rocky) merupakan orang yang dapat merasionalkan permasalahan yang terjadi seperti merasionalkan situasi politik dengan kapabelitas yang memumpuni serta basis fikiran yang jernih. Ketelitian dalam melihat situasi politik, psikologi, analogi sosial, dan jalan pemikiran kriminal.


SENDI PLURALITAS DAN RASIONALITAS ADALAH INDONESIA




Negara Indonesia telah lama berdiri dengan sendi pluralitas dan rasionalitas. Kedangkalan berfikir beberapa tokoh muslim garis miring dan dukungan minoritas membuat negara ini kacau saat ini tidak akan mudah dilupakan untuk masa depan. Politik balas dendam mungkin akan terjadi ketika pemerintah telah berubah haluan. Orang yang memercikan bara akan menerima apa yang telah dia lakukan sebelumnya. Tuailah kesalahan dengan lapang dada.
Perlu diingatkan bahwa umat agama apapun bisa hidup di Indonesia tanpa harus mengusik agama mayoritas. Suatu cerita yang berlainan jika agama mayoritas di singgung bahkan dihina. Ini diberi hati minta jantung. Parahnya bukan malah minta maaf malah melakukan tindakan kriminalisasi, persekusi, hingga pembubaran ormas Islam. Siapapun dalang dari semua ini akan menerima akibatnya di masa yang akan datang atau selambat-lambatnya ketika pemerintahan bergulir atau jatuh.
Pembuat onar negara, penghancur keharmonisan beragama, pelaku kriminal harus dijatuhkan sanksi yang sangat berat karena berkaitan dengan keutuhan negara. Tidak lain adalah para pedukung penista agama. Sejak awal saya sudah mengingatkan bahwa kasus penista agama harus diselesaikan tuntas hingga keakarnya. Telah terbentuk sekumpulan manusia yang mendukung terhadap kerusakan atau kemungkarang. Ini hanya akan menajdi duri dalam danging negara. Oleh karena itu semua aparat, lembaga, pihak, tokoh, partai politik harus membersihkan diri dari orang-orang pendukung kerusakan ini. Hukum harus tajam menyelesaikan kasus ini tidak tumpul.



Cuma dua tahun.... Soekarno pun akan tertawa terbahak-bahak jika keluar dari kuburnya. Ayolah kembali pada pijakan awal negara Indonesia yang merupakan pluralitas dan rasionalitas. Kembali kepijakan dasar negara, lambang negara, pahlawan negara, tidak pada penjajah atau musuh dalam selimut yang mengambil keuntungan dari kemerdekaan Indonesia. Dengan semua dasar dan sendi itu tentu kita tidak hanya membuat Indonesia baru tetapi menjadikan Indonesia sebagai tempat yang layak untuk ditempati oleh generasi kita selanjutnya dengan tidak ada lagi politik balas dendam yang hanya dilakukan oleh para pengecut.