There was an error in this gadget

Friday, 4 May 2012

MAJAPAHIT BERAKHIR DALAM DAN LUAR










ABSTRAK
Keruntuhan adalah berakhirnya pemerintahan dari suatu kerajaan yang di sebabkan berbagai faktor sehingga kerajaan tersebut tidak lagi diakui oleh manusia pada masa itu sebagai pemerintahan yang berdaulat. Seperti itu juga dengan Majapahit yang mengalami keruntuhan karena faktor perebutan kekuasaan oleh keturunan sang raja dan berakhir dengan kehancuran. Akan tetapi Majaphit masih berupa kerajaan yang kecil seperti layaknya keluarga besar. Dalam makalauh ini membahas keruntuhan kerajaan Majapahit dari beberapa segi pandang dan ke beradaan Majaphit setelah keruntuhannya sebagai sentral pemerintahan Nusantara.










BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Majapahit merupakan kerajaan hindu-Jawa terbesar di Indonesia sehingga menjadi simbol hindu jawa diperadabannya yang sangat maju pada masa itu. Kerajaan majapahit yang berlokasi di pulau jawa mampu memperluas kekuasaannya ke pulau-pulau seberang seperti sumatra, kalimantan, sulawesi bahkan papua. Hal ini tidak luput dari kepemimpinan seorang rajanya dan seorang patihnya yang sampai sekarang sangat di kenal oleh orang banyak, yaitu Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, ditangan merekalah majapahit mengalami masa puncak kejayaan. Pasca-tumbangnya Hayam Wuruk, Majapahit perlahan-lahan mengalami kemunduran yang berakhir sirna.
Kemunduran majapahit tidak luput dari beberapa faktor yang mempengaruhinya baik faktor yang berasal dari internal majapahit sendiri maupun faktor yang berasal dari luar. Kemunduran majapahit menutup peradaban Hindu-Jawa dan mulainya peradaban baru yang membawa nusantara ke kancah kerajaan islam. Meskipun masih dalam tahapan islamisasi di jawa akan tetapi tidak dapat dipungkiri kerajaan-kerajaan yang berdiri pada masa itu tidak dapat melepaskan dirinya dari pengaruh islam begitu juga pada masa kerajaan majapahit.
Adapun berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan majapahit runtuh pada tahun Saka 1400 (1478 M). Namun banyak data yang kuat menyatakan bahwa kerajaan majapahit masih dapat berlanjut hingga awal abad XVI terbukti dari berita Portugis dan Italia, dan pada waktu itu Majapahit berupa sebuah kota diantara kota-kota besar yang ada di pulau jawa. Terdapat juga berita bahwa raja Majapahit adalah Pati Unus dan dia seorang raja paling berkuasa.
Tujuan dalam penulisan makalah ini adalah selain untuk menambah pengetahuan dan diharapkan bermanfaat bagi kita semua sebagai cerminan bentuk kegagalan dari negara kerajaan yang pernah berjaya pada masa silam.
BAB II
Faktor Internal Pergolakan Meruntuhkan Kerajaan Majapahit
Keruntuhan Majapahit disebabkan banyak faktor dalam, terutama faktor politik. Ini terbukti bahwa pascakekuasaan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada dan sebelum mereka berkuasa. Membuktikan bahwa adanya pergerakan dari rakyat yang tidak menyenangi pemerintahan Majapahit. Oleh sebab itu, legitimasi kekuasaan raja-raja Majapahit terkadang sangat rentan tak berdaya. Ini kemudian menimbulkan perang saudara yang melibatkan elite kerajaan dan rakyatnya. Kejadian ini kemungkinan disebabkan adanya konflik hebat di kalangan keluarga raja sehingga Majapahit gagal mengisi posisi raja secara definitif.


Gambar 2.1
logo surya majapahit
a.                  Pemberontakan Rangga Lawe
Pemberontakan ini terjadi pada masa Raden Widjaja menjabat sebagai raja Majapahit pertama (1293-1309). Pemberontakan Rangga Lawe adalah pemberontakan yang dilakukan atas dasar keinginan pribadi sendiri dari Rangga Lawe yang merupakan calon Patih yang tidak jadi diangkat.[1] Rangga Lawe pergi ke Tuban untuk menghasut beberapa orang agar ikut dengannya memberontak. Sehingga mendengar kehengkangan Rangga Lawe oleh raja Majapahit yaitu Raden Widjaja maka terjadilah penumpasan pemberontakan Rangga Lawe yang di dukung masyarakat Tuban yaitu teman-temannya sendiri. Pemberontakan ini terjadi pada tahun 1295 M. Semua berhasil ditumpas dan Rangga Lawe bersama teman-temannya mati dalam pemberontakan yang kurang lebih selama setahun itu dan Rangga Lawe mati dibunuh oleh Mahisa Anabrang.
Sekilas saja untuk mengenal Rangga Lawe yang menjadi tokoh dalam pemberontakan tersebuat adalah seorang kemenakan dari Lembu Sora yang merupakan penumpas pemberontakan itu sendiri dan mempunyai seorang ayah bernama Aria Wiraraja yang merupakan seseorang kepercayaan dari raja Majapahit. Selain itu Rangga Lawe merupakan orang yang populer di tengah masyarakat Jawa. Karena jika diingat jasa dari Rangga Lawe yang diuraikan dalam pararaton, yaitu pengembaraan Rangga Lawe Bersama Raden Widjaja dan perang Tartar. Seharusnya Rangga Lawe mandapat peran penting dalam pemerintahan yaitu sebagai patih jabatan yang dia incar, tetapi berhasil diduduki oleh Nambi.
b.                  Pemberontakan Lembu Sora
Setelah 5 tahun pemberontakan Rangga Lawe muncul pemberontakan Lembu Sora yang terjadi pada tahun 1300 M atau 1222 tahun Saka. Tokoh lembu Sora adalah tokoh yang sering memberikan nasehatnya kepada Raden Widjaja dalam berbagai sesulitan memecahkan masalah kenegaraan bahkan menurut sumber sejarah yang saya baca Lembu Sora adalah seorang ahli taktik perang yang jitu dan dari taktik perangnyalah Majapahit dapat menumpas Pergolakan dari Rangga Lawe.
Latar belakang dari pemberontakan ini adalah kematian dari Rangga Lawe ditangan Kebo Anabrang yang kemudian memicu kemarahan dari Lembu Sora yang merupakan paman dari Rangga Lawe sehingga memicu Lembu Sora untuk menikam Kebo Anabrang sehingga tewas. Hal ini menjadi perbincangan dikalangan para tetinggi dari Majapahit. Lembu Sora dinyatakan bersalah dan untuk menghormati jasa dari Lembu Sora selama ini maka Lembu Sora hanya dijatuhkan hukuman dibuang ke suatu daerah. Hal ini membuat Lembu Sora sedih dan dia bermaksud bertekad meyerahkan dirinya kepada baginda raja akan tetapi Lembu Sora disangka berkhianat sehingga terjadilah pertempuran. Pertempuran terjadi saat Lembu Sora akan menghadap Prabhu tetapi dicegat oleh pengawal kerajaan di pintu masuk gerbang kerajaan Majapahit. Keluarlah para pasukan yang telah disiapkan sebelumnya oleh prabhu untuk menumpas Lembu Sora. Sehingga membuat Lembu Sora tewas dalam pertempuran itu.[2]
c.                   Pemberontakan Nambi
Dari Nagarakretagama dan Pararaton jelas sekali bahwa pemberontakan Nambi terjadi pada masa pemerintahan raja Djajanagara. pemberontakan Nambi ini menurut Kidung Sorandaka dan Pararaton Mahapatih mempunyai keterlibatan penting yang mensiasati Nambi. Maha patih mendatangi Nambi dan mengatakan bahwa sang prabu tidak menyukainya atau tidak senang padangnya. Mahapatih menasehati dan menyarankan agar Nambi meninggalkan Majapahit untuk beberapa waktu untuk menenangkan hati sang prabhu. Nambi pergi berkunjung ke tempat ayahnya di Lumadjang yang saat itu sedang sakit keras dan kemudian meminta izin cuti pada prabhu untuk pergi menjenguk ayahnya. Tak lama kemudian tersiar bahwa ayah Nambi meninggal dunia sehingga sang prabu mengutus beberapa utusannya ke Lumadjang tempat Nambi. Dalam utusan sang prabhu itu ikut sertalah Mahapatih yang berniat bburuk terhadap Nambi. Di Lumadjang Mahapatih menghasut Nambi untuk tetap tinggal tinggal di sana dengan memperpanjang cutinya yang nantinya akan di sampaikan oleh Mahapatih pada sang prabhu. Namun Mahapatih berkata lain di depan sang prabhu, dia mengatakan bahwa Nambi tidak akan kembali ke Majapahit bahkan Nambi malah mempersiapkan benteng pertahanan untuk memberontak dan menyiapkan orang-orangnya merupakan pelayat dari Majapahit berupa mentri-mentri yang kemudian dikatakannya pelayat Nambi tersebut adalah mentri-mentri yang datang tanpa izin sang prabhu.
Kemarahan sang prabhu menyebabkan terjadinya penyerangan terhadap Lumadjang dengan dipimpin oleh Mahapatih sendiri. Sang prabhu memerintahkan agar mengepung Lumadjang dengan mensiasati menyerbu benteng pertahanan terlebih dahulu kemudian menyerbu Gading. terjadilah penumpas habis para pemberontak itu sehingga bayak diantara para mentri yang mendukung Nambi ikut tewas. Terbuktilah siasat penumpasan pemberontak itu berhasil dengan tewasnya Nambi dan beberapa mentri lainnya.
d.      Perang Bubat
Negara Sunda tidak masuk dalam daerah kekuasaan Majapahit terbukti dengan tidak adanya nama Sunda dalam Nagarakretagama. Perang bubat terjadi pada tahun 1357 M dan merupakan perang mati-matian sehingga bayak korban yang berjatuhan baik dari Majapahit maupun kerajaan Sunda. Pararaton menyajikan uraian berikut yang menjadi latar belakang pecahnya perang Bubat antara Majapahit dan Sunda.
Dyah Hayam wuruk bermaksud mengambil putri sunda Dyah Pitaloka sebagai permaisuri. Patih Madhu diutus menghadap raja sunda untuk menyempaikan maksud tersebut. Raja Sunda datang ke Majapahit tetapi tidak membawa sang putri. Kehendak orang Majapahit agar putri Pitaloka dipersembahkan sebagai upeti kepada sang prabhu. Patih Gajah Mada tidak suka jika perkawinan antara sang prabhu dan putri Pitaloka dilangsungkan dengan cara yang seperti biasa. Akantetapi raja Sunda tidak suka dengan sikap yang demikian. Serta merta balai penginapan Maha Raja Sunda dikepung olah tentara Majapahit atas perintah Gajag Mada. Maharaja Sunda berniat menyerah dan menuruti kehendak Gajah Mada, tetapi para Menak yang mengikuti Maharaja Sunda menolak untuk menyerah mentah-mentah terhadap kehendak Gajah Mada. Mereka bersedia mati di perang bubat jika terjadi perperangan. Kesanggupan menak itu membangkitkan semangat perang Maharaja Sunda sehingga meletuslah perang bubat.
Perang ini dimenangkan oleh Gajah Mada sebagai patih dalam Majapahit namun disana jugalah Gajah Mada disalahkan karena akibat tindakannya terhadap Kerajaan Sunda dengan menuruti keinginannya sendiri maka Gajah Mada dibebastugaskan oleh Dyah Hayam Wuruk.
Kesedihan Hayam Wuruk atas meningalnya Dyah Pitaloka karena perang bubat menyebabkan mangkatnya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada menjadi sasaran dari para anggota kerajaan karena telah dijatuhkan hukuman bahwa Gajah Mada akan dikenakan Hukuman mati setimpal dengan kematian Hayan Wuruk.
e.       Perang paregreg
Perang tersebut merupakan perebutan tahta antara Suhita (putri dari Wikramawardana) dan Wirabumi (putra Hayam Wuruk). Pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan suaminya, Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta Majapahit.
 Kemudian mereka digantikan oleh Suhita. Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg (1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun karena hal itulah Majapahit menjadi lemah dan daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk memisahkan diri. Dengan demikian penyebab utama kemunduran Majapahit tersebut ditengarai disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk, melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap serta wibawa politik yang memudar.[3]











Gambar 2.1

BAB III
Kemunduran Majapahit Disebabkan Pengaruh Demak
Keruntuhan Majapahit tidak luput dari faktor pengaruh luar baik secara langsung maupun tidak langsung. Faktor-faktor luar yang dimaksud disini adalah penyebab-penyebab yang mendorong majapahit dalam keruntuhannya karena ada diantaranya seperti penaklukan yang dilakukan oleh Demak terhadap Majapahit sehinga Kerajaan Majapihit berakhir.
Kerajaan majapahit runtuh pada tahun saka 1400 (1478 M) menurut berita tradisi. Candarasengkala sirna-ilang-kertining-bumi menyimpulkan keruntuhan majapahit disebabkan oleh serangan dari kerajaan Islam Demak.[4] Berdasarkan bukti sejarah menyebutkan bahwa sebenarnya saat itu kerajaan majapahit belum runtuh dan masih berdiri hingga bebarapa waktu yang lama. Berdasarkan prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1486, masih menyebutkan adanya kekuasaan Majapahit yang berdiri dengan raja yang berkuasa bernama Dyah Ranawijaya yang bergelar Girindrawarddhana, bahkan dia juga disebut pula sebagai Sri Paduka Maharaja Sri Wilwatiktapura Janggala Kediri Prabhunatha.
munculnya kerajaan Demak yang dianggap membawa angin dan perubahan baru menjadi faktor penyebab melemahnya kerajaan Majapahit yang disebabkan juga makin pudarnya popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata rakyat. Keberadaan Majapahit telah tertutupi oleh keberadaan Demak. Selain itu Demak juga semakin menguat setelah bersekutu dengan Surapringga (Surabaya), Tuban, dan Madura,[5] dimana wilayah-wilayah tersebut sebelumnya merupakan daerah kekuasaan Majapahit.


BAB IV
Pengaruh Kerajaan Majapahit dimasa Keruntuhan
Kerajaan Majapahit pada masa-masa keruntuhannya mempunyai hubungan atau pengaruh dengan kerajaan yang ada di Nusantara maupun yang ada di Asia. Kerajaan Majapahit mempunyai masa keruntuhan yang berhubungan dengan kesultanan Demak. Selain dari hubungan Majapahit dengan kesultanan Demak Majapahit juga mempunyai pengaruh dalam hubungan diplomatik dengan Cina. Hubungan dan pengaruh Majapahit dimasa keruntuhannya masih diakui sebagai sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang penguasa Hindu.




Gambar 4.1

Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, menyebutkan bahwa raja-raja Demak menyatakan diri sebagai keturunan Prabu Brawijaya raja Majapahit.[6] Dalam Purwaka Caruban Nagari, disebutkan dengan jelas bahwa Raden Patah, pendiri dan sultan pertama Demak, adalah anak Prabu Brawijaya Kertabhumi.[7] Artinya dalam Keruntuhan Majapahit berkaitan erat dengan Berdirinya kerajaan Demak dan berkaitan erat dengan rangkaian perang saudara memprebut tahta dan kekuasaaan atas Kerajaan Majapahit.
Berita Cina berasal dari dinasti Ming (1368-1643 M) masih menyebutkan adanya hubungan diplomatik antara Cina dan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499.[8] Kerajaan Majapahit masih berstatus berdiri pada saat akhir abad 15 dan mempunyai hubungan secara diplomatik dengan negeri seberang sehingga Majapahit masih diakui sebagai kerajaan yang berkuasa di pulau Jawa.

BAB V
Akhir Majapahit dalam Bukti Sejarah
Majapahit masih mempunyai exsistensinya pada awal abad 16 dan mulai berangsur-angsur hilang. Hal itu terekam dalam beberapa sumber dari para penulis asing yang memberikan informasi tentang keberadaan kerajaan majapahit di Nusantara.
Kerajaan majapahit sudah tidak ada lagi pada tahun 1522 menurut berita dari Italia yaitu dari seorang penulis yang bernama Antonio Pigafetta. Antonio Pigafetta juga menyebutkan bahwa Pati Unus adalah seorang paling berkuasa atas Majapahit dan Demak (1518-1521 M). Raja Majapahit Pati Unus yang dikenal juga dengan Peangeran Sabrang Lor dikabarkan meningal pada tahun1521 M. Antonio Pigafetta memberi kesan bahwa saat itu Majapahit menjadi kota di antara kota-kota besar lain di pulau jawa.[9]
Pemberitaan Pigefetta itu jika dihubungkan dengan berita Duarte Barbosa kebangsaaan Italia yang menberitakan bahwa pada tahun 1518 M di pedalaman pulau Jawa masih berkuasa raja kafir dan sangat besar pengaruhnya.[10] Kerajaan kafir yang diperintah oleh seorang raja bernama Pate Udra, kemudia Majapahit dikuasai oleh dipati Unus. Maka dapat disimpulkan bahwa pada tahun 1518-1521 terdapat pergeseran politik di pulau Jawa terutama terjadi pada Majapahit sendiri. Peralihan tangan ini terjadi antara penguasa Hindu kepada Adipati Unus penguasa dari Demak.
Perpindahan kekuasaan dari Majapahit yang dipimpin oleh penguasa Hindu kepada penguasa Muslim secara proses tidak ada sumber yang menjelaskannya. Terutama nasib para penguasa Majapahit yang dikuasai dan bagai mana berlangsungnya perpindahan kekuasaan tersebut. Sumber-sumber seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, dan Serat Darmagandul tidak mampu memberikan gambaran kejadian perpindahan kekuasaan itu dengan jelas.[11] Berikut beberapa pendapat dari para ahli sejarah yang menggambarkan keruntuhan dari kerajaan majapahit.
H. J. Van Den Berg, Dr. H. Kroeskamp, dan I. P. Simandjoentak mencatat penyebab lain dari keruntuhan Majapahit adalah tidak loyalnya para pelaku ekonomi terhadap pemerintahan Majapahit. Dikatakan bahwa mata pencaharian utama rakyat Majapahit adalah bertani. Kaum petani ini umumnya memiliki loyaliyas yang tinggi terhadap Majapahit. Namun demikian golongan ini tidak memiliki akses untuk mempengaruhi kebijakan bahkan tidak mengetahui seluk beluk pemerinthan Majapahit. Golongan lain diluar kaum petani adalah orang-orang kaya dan kaum saudagar. Golongan tersebut umumnya memiliki pengaruh terhadap kehidupan perekonomian, namun justru merasa bahwa dirinya merdeka dari Majapahit. Sejak awal mereka telah merasa tidak tunduk terhadap pemerintahan Majapahit. Perceraian kedua golongan inilah, yaitu petani dan kaum saudagar atau orang kaya, yang dinilai sebagai salah satu penyebab kerutuhan Majapahit pada masa selanjutnya
Dapat disimpulkan bahwa keutuhan kedaulatan kerajaan Majapahit terletak pada pergerakan ekonomi yang sebenernya dijalankan oleh du golongan pada saat itu yaitu para petani dan saudagar. Mereka justru tidak loyal terhadap kerajaan Majapahit. Apalagi ketika masuk Islam, kebanyakan dari mereka seperti petani-petani kecil memeluk Islam sebagai agama. Maka berkuranglah pendukung Kerajaan Majapahit dan wibawa Kerajaan semakin menurun.[12]
Dr. W. B. Sidjabat memiliki  analisa lain terkait penyebab keruntuhan Majapahit. Faktor penyebab tersebut anatara lain adalah sering terjadinya banjir besar di sungai Berantas, salah satu sungai yang memiliki posisi strategis bagi pelayaran dan ekonomi Majapahit. Hal ini mengakibatkan perniagaan-perniagaan di Sungai Berantas terus berkurang. Lebih-lebih pasca meletusnya Gunung Kelud, Sungai Berantas menjadi dangkal akibat aliran lahar dan muaranya maju ke laut sehingga mengakibatkan pelayaran di Canggu berhenti sama sekali. Belum lagi perebutan mahkota Kerajaan turut memperlemah semua potensi Majapahit.[13]

BAB VI
Kesimpulan
Kerajaan Majapahit runtuh ternyata bukan semata-mata karena serangan dari Kerajaan Demak karena ditemukannya beberapa faktor yang menyebabkan Kerajaan Majapahit melemah dan mengalami kekurangan dukungan dari daerah-daerah yang telah ditaklukannya. Faktor-faktor keruntuhan Kerajaan ini yang paling dominan adalah karena pengaruh Islam yang telah menyebar pada saat itu, sehingga membuat banyak pemeluknya lebih mendukung kerajaan Demak yang merupakan kerajaan yang berideologi Islam.
Faktor keruntuhan dari dalam kerajaan Majapahit pun sangat mempengaruhi perpolitikan Majapahit sehingga melemahkan kepercayaan dari daerah pendukung Majapahit terhadap kegagalan Majapahit dalam memerintah. Walaupun semua pemberontakan itu dapat ditumpas tetapi kesalahan yang membuat terjadinya pemberontakan itu tidak pernah menjadi pelajaran sehingga dalam disimpulkan bahwa pada masa itu manusia sangat mudah dihasut dan terkena hasutan.
Kerajaan Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Budha penutupan dari kerajaan-kerajaan Hindu-Budha sebelumnya dan juga merupakan kerajaan yang mengklaim akan menyatukan Nusantara sehingga tak heran jika kerajaan Majapahit mempunyai banyak daerah pendukung. Akan tetapi satu fakta yang ganjil bahwa sesungguhnya Majapahit sama sekali tidak berhasil dalam manyatukan Nusantara bahkan Jawa pun tidak satu di bawah Majapahit, Karena terbuktinya kalau Kerajaan Sunda pada masa itu menjadi musuh Majapahit akibat dari peristiwa perang Bubat.
Fatalnya kegagalan pemerintahan Kerajaan Majapahit adalah terjadinya perselisihan antara penerus Kerajaan Majapahit yang meyebabkan terjadinya perebutan kekuasaan secara turun temurun. Jadi selain adanya faktor luar yang mendorong keruntuhan majapahit tetapi ada faktor tidak mendukung pemerintahan Majapahit sehingga keruntuhan tinggal menunggu waktu.
Daftar Pustaka
Atmadja, Nengah Bawa, Genealogi Keruntuhan Majapahit, Islamisasi Toleransi,
         dan Pemertahanan Agama Hindu di Bali.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
         2010.

Slamet Muljono, Menuju Puntjak Kemegahan. Djakarta: Balai Pustaka, 1965.

NugrohoNotosusanto dan Marwati Djoened Poeponegoro, Sejarah Nasional
         Indonesia II
. Jakarta: Balai Pustaka, 1984.

Slamet Muljana, Pemugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit. Jakarta: Inti
         Idayu Press, 1983.

Soekama. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Logos,
         1996).

Abu Bakar Aceh. Sejarah Al Quran. Surakarta: Ramadhani, 1989.

W.P.Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Cinnese Sources, Jakarta, 1960

J.A. Robertson, Magellan’s Voyages Around the World by Antonio Pigafetta, II,
    1909

M.L. Dames, The book of Daurte Barbosa, II, 1921.

H. J. Van Den Berg, dkk,  Dari Panggung Sejarah. Jakarta: Groningin , 1951

Lampiran



[1] Slamet Muljana, Pamugaran Persada Sejarah Leluhur Majapahit, 1983, hal 133.
[2] Slamet Muljono, Menudju Puntjak Kemegahan, 1965, hlm 167-170.
[3] Soekama Karya., et all. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. (Logos, Jakarta, 1996). Hal. 364
[4] Lihat Serat Kanda,di dalam par.2,hal.229-230. Lihat pula Babad ing Sengkala di dalam
   M.C. Ricklefs, hal 18 dan 159.
[5] Abu Bakar Aceh. Sejarah Al Quran. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 234-235.
[6] Di dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda disebutkan bahwa Raden Patah adalah anak
    Prabu Brawijaya dari perkawinan dengan putri Cina. Lihat: Olthof, Babad Tanah Djawi, teks
    bahasa jawa
, hal 19-20; Brades, Pararaton2, hal. 225.
[7] Atja, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, 1972, hal. 84.
[8] W.P.Groeneveldt, Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled from Cinnese Sources,
    Jakarta, 1960, hal. 1-2.
[9] J.A. Robertson, Magellan’s Voyages Around the World by Antonio Pigafetta, II,
    1909, hal. 167-169.
[10] M.L. Dames, The book of Daurte Barbosa, II, 1921 hal. 189-190.
[11] W.L. Olthof, Babad Tanah Djawi, teks bahasa jawa, hal. 29; Serat Kanda, di
    dalam Par.2, hal. 216-230; Serat Darmogandul, edisi Tan Khoen Swie, 1954.
[12] H. J. Van Den Berg, et. all. Dari Panggung Sejarah. Hal. 365-366
[13] Lihat artikel Dr. W. B. Sidjabat.  Latar Belakang Sosial dan Kultural dari Geredja-geredja Kristen di Indonesia. Dalam Dr. W. B. Sidjabat (ed.). et. all. Panggilan Kita di Indonesia Dewasa ini. (Badan Penerbit Kristen, Jakarta, 1964). Hal. 20 - 21

No comments:

Post a Comment