There was an error in this gadget

Saturday, 5 May 2012

Kerajaan mataram dalam pemerintahan Amangkurat (Sunan Amangkurat)



Latar belakang
Kerajaan mataram pada tahun 1640 mengalami pergantian pemerintahan dari sultan Agung kepada anaknya Amangkurat I. Sultan Agung telah mengatur masalah penggantinya “suksesi ini terjadi selama sang ayah sakit,” seperti dinyatakan dengan tegas oleh Van Goens dalam laporan perjalanannya (Goens, Gezantschapsreizem, hlm.199). Maka, dipanggillah abdi-abdi utamanya yang terkemuka, seorang pangeran yang tidak disebut namanya. Mereka diperintah agar menyetujui pengengkatan putra sulungnya. Setelah segala sesuatu usai, Sultan Sunan Amangkurat resmi di angkat sebagai raja.
Tindakan pada pemerintahan amangkurat I
Melakukan pergantian abdi-abdinya yang telah tua sebagai anugrah dari sang raja. Saat terjadi penyerbuan di blambangan oleh orang-orang Bali meninggalkan banyak korban termasuk pamannya sendiri, Tumanggung Wiraguna dan adiknya yang dianggap penghianat ikut dalam penyerbuan tersebut.
Pembunuhan atas kaum ulama dengan tuduhan penyebab kematian pangeran Alit dan pembunuhan para pembesar yang telah tua agar diganti dengan pembesar yang muda dilakukan oleh sunan terlihat bahwa gaya pemerintahan yang aneh. Van Goens mengisahkan betapa setelah pembunuhan-pembunuhn terakhir yang dilakukan atas perintah sunan, bahkan pamannya sendiri. Hal itu telah membuat pamannya, Pangeran Purbaya merasa cemas dengan nyawanya yang bisa saja hilang seperti rekan-rekannya yang lain. Tampa sepengetahuan dia memperkuat dirinya dengan orang-orang kepercayaanya. Sunan yang mendegar hal itu merasa khawatir akan terjadi kerusuhan. Maka diutuslah Raden Mas menyampaikan pesan yang isinya bahwa purbaya tidak mau melanjutkan jabatannya. Akhir cerita sunan mengampuni setelah pangeran purbaya menyerahkan diri dan sunan tetap tidak menggurangi kegiatan untuk memilih orang-orang dari kalangan muda untuk menjadi abdi-abdi istana.
Sunan tidak menganggapan bahwa dirinya penguasa tertinggi di mataram akan tetapi sebagai “penguasa atas seluruh pulau jawa “ (Daghregister, 4Oktober1673). Maka dari itu masih banyak daerah yang belum di taklukan oleh sunan termasuk juga daerah yang pernah lepas dari kekuasaanya. Sedangkan untuk daerah di negri seberang diutus empat gubernur atas Palembang, Jambi, Sukadana, dan Batavia. Sukadana disini adalah kalimantan yang disana diperintah oleh raja Makassar, akan tetapi raja makassar sama sekali tidak pernah mengakui mataram sebagai pertuanan yang lebih tinggi. Begitu juga dengan banten dan daerah blambangan yang mempunyai kekuasaan atas daerahnya sendiri. Hanya Palembang yang setia sampai akhir (1677), mungkin berdasarkan trsadisi lama, atau karena terancam oleh musuh mataram, yaitu Banten; dan Jambi yang sedang berkemabang dengan pesat. Kehancuran kerajaan mataram disebabkan oleh sangat kurangnya keperkasaan sang raja. Sering sekali dia melancarkan rencana perang dan ancaman akan tindakan perang, tetapi tidak perbah terwujud dalam pukulan yang nyata. Kerajaan Mataram bangkit sebab watak dan karekter kuat dari Senapati dan Sultan Agung, tetapi runtuh kerajaan tersebut disebabkan oleh sifat-sifat kejam anak cucu mereka, yaitu Sunan Tegalwangi yang selalu curiga dan membawa malapetaka.
Hubungan mataram dengan daerah lain
Sunan tidak merasa senang dengan Banten karena Banten takpernah menganggap dirinya lebih rendah dari Mataram. Pada bulan Februari tahun 1649 Banten pernah melakukan sensus buat penduduk laki-laki di atas usia 7 tahun dan dan dipersenjatai senapan di asumsikan “usaha mengitung dilakukan untuk mengetahui berapa besar kekuatan untuk menyambut Mataram jika suatu saat hendak memerangi Banten” (Daghregister, 20Februari1649). Banten dan Mataram saling mengirim utusan dengan tujuan mengetahui keadaan masing-masing kubu. Mataram memperlihatkan kekuasaan dan kebesaran kerajaannya pada utusan Banten atau lebih bermaksud menakuti utusan banten tersebut, dengan tidak memperkanankan mereka menghadap raja. Pada saat Mataram akan melakukan expedisi ke blambangan untuk ditakukan, sunan mendapat penyakit bisul yang diduga berupa kutukan. Sejak saat itu sunan bersumpah akan membuat hubungan baik dengan Banten dan menaklukan Blambangan terlebih dulu sesuai dengan pesan dari ayahnya.
Pada tanggal 22Oktober1656 susuhunan menggunakan 100 gadis untuk memilih 2 diantaranya untuk putra Tumenggung dan secara rahasia akan ditolaknya gadis-gadis dari Banten. Akibat dari itu retaknya hunbungan kedua kerajaan. Pada awal juli 1657 sunan memerintahkan mengirim hadiah aneh pada Banten yang mempunyai arti kurang menyenangkan bagi orang Banten. Banten kemudian menyindir sangat kurang salehnya sunan dengan hadiah berupa ”sebuah pisau cukur, gunting, topi jawa berwarna putih, dan kain putih yang panjang”. Maka dari itu muncul ketegangan antara kedua kerajaan, menurut Truijtman kedua belah pihak bagaikan dua musuh besar, yang saling amat menakuti. Rencana ekspedisi yang telah di rencanakan oleh sunan diluruskan oleh Tumenggung Pati dengan dalih Banten menganut agama yang sama dan sultan Banten berusaha agar tidak kehilangan muka di hadapan susuhunan dengan dirinya sebagai jaminan. Ekspedisi kemudian dibelokkan ke karawang dalam bentuk ekspedisi kecil menaklukkan karawang. Setelah itu tidak adanya pertikaian antara kedua kerajaan. Malahan sebaliknya ditemukan percobaan dari putra Mataram untuk menjalin hubungan baik dengan negara tetangganya.
Politik mataram dengan daerah pulau di luar jawa
Pada dasarnya kerajaan mataram juga seperti kerajaan hindu dan budha lainnya yang menggunakan sistem politik mandala dalam pemerintahannya. Mataram juga mempunyai hubungan dengan daerah lain seperti palembang, jambi, kalimantan, dan sulawesi. Mataram mempunyai sedikit kekuasaan di daerah Palembang dan Jambi untuk wilayah bagian di Sumatera,(1651-1656). Setiap kali daerah tersebut harus memberikan upeti sebagai sembah sujudnya pada sunan dan bersedia tunduk pada kerajaan mataram sebagai suatu pusat kerajaan. Walaupun dalam pemberian menimbulkan banyak kesulitan karena keangkuhan Sunan Mataram. Malah tak jarang Sunan Mataram memperlakukan utusan dari Palembang dan Jambi dengan sambutan menghina dan tidak layak. Hal itu tentu membuat para utusan kecewa dengan tingkah laku sunan. Akhirnya Palembang dan Jambi menolak memberikan sembah sujud dan menolak mengakui daerahnya sebagai bagian dari kerajaan Mataram.
Hubungan mataram dengan Kalimantan dan Sulawesi tidak berbeda jauh dengan Sumatera yang dimana utusan dari daerah tersebut diperlakukan secara tidak hormat oleh Sunan Mataram. Maka tak heran jika mereka juga tidak menganggap bahwa Kalimantan dan Sulawesi bagian dari Kerajaan Mataram. Masalah ini menimbulkan kemarahan Sunan dan akan mengancam melakukan tindakan kekerasan bagi daerah yang tidak lagi memberikan persembahan sebagai sembah sujud pada sunan, tetapi hal itu hanya gertak sambal belaka. Hubungan kerajaan Mataram semakin memburuk karena kegagalan Sunan dalam menghadapi kekuasaannya, justru sekitar tahun 1660 kekuasaan kompeni mulai tampak secara jelas.
Runtuhnya Mataram
è    Penghianatan putra mahkota Juli-Oktober 1676
Pengiriman pangeran Adipati Anom dan kawan-kawan ke Demung menimbulkan banyak hambatan dari musuh bebuyutannya, Pangeran Singasari (Aria Pamot) dan akhirnya berangkat pada juli 1676. Tetapi sementara itu kaum pemberontak tidak diam menunggu sampai orang Mataram datang.  Alhasil terjadilah perperangan di Gegodog 13 Oktober 1676 sesampai pasukan Adipati Anom di sana. Adipati Anom mundur Oktober-Desember 1676
è    Kemenangan Madura
Bergerak maju ke barat dari orang-orang madura setelah mendengar peristiwa di Gegodog. Laskar madura dengan bantuan tentara jawa timur menyerang Jepara. Pada Desember 1676-Januari 1677 Madura berhasil merebut beberapa pelabuhan sampai Cirebon.
è    Serangan besar-besaran atas Mataram April-Juni 1677
Berita paling awal berasal dari Raden Kajoran bahwa mataram telah hancur sebagian dan hal itu di sebabkan oleh Raden Kajoran. Serangan demi serangan pun beranjut, ada dua pasukan induk yaitu serangan yang di pimpim oleh Panglima Madura Mangkuyuda yang menempatkan kubunya di Layang. Dia membawa pasukan dari berbagai daerah di Jawa dan Madura dengan jumlah kekuatan sebesar 100.000 orang. Selain itu ada pasukan ke dua yang disebut sebagai pemmpinnya adalah Adipati Wiramenggala yang mempunyai kekuatan 50.000 orang. Dilain pihak dari pasukan mataram dipimpin oleh Pangeran Puger dengan kekuatan 10.000 orang dan menyerah pada jangka waktu satu hari. Pasukan Madura sampai di ambang ibu kota keraton Mataram dan terjadilah pertarungan sengit selama 7 hari bersama Adipati Anom. Dan akhirnya kekalahan tak dapat dihindarkan, keraton jatuh ke tangan pemberontak. Sunan amangkuran II sendiri melarikan diri dan mangkat di Tegalwangi. 

Daftar pustaka
Graaf,1987.Disintegrasi Mataram di Bawah Mangkurat I. Jakarta:grafitipers.
Graaf,1987.Runtuhnya Istana Mataram. Jakarta:grafitipers.

No comments:

Post a Comment