Rabu, 06 April 2016

Hikikomori



Source of picture: dailymail.co.uk
Hikikomori adalah salah satu penyakit yang berkembang di Jepang pada masa modern ini. Penyakit ini bukanlah penyakit fisik seperti yang kita kenal sehari-hari, seperti: demam, flu, kanker, atau semacamnya. Hikikomori adalah penyakit kehidupan sosial atau lebih tepatnya unsosial yang parah, mengucilkan diri dalam kamar dan tidak berinteraksi dengan masyarakat. Perkembangan dunia hiburan seperti game online, anime, dan manga telah memunculkan hidup hedonisme individual, kenyamanan hidup diatas kesendirian. Semua terjadi karena setiap manusia merasa puas dan senang saat menggeluti game, anime, dan manga sehingga meninggalkan kehidupan sebenarnya.
Manusia yang terkena penyakit Hikikomori biasanya menghabiskan waktu hingga berjam-jam bahkan sampai bertahun-tahun. Hal itu tergantung pada tingkat kebosanan atau kesadaran akan keburukan yang dia lakukan. Banyak orang tua atau keluarga dari penderita penyakit ini membiarkan anaknya menjadi unsosial tetapi ada punya yang langsung memberikan pengarahan yang baik. Berbeda halnya jika seseorang berada ditempat yang jauh dan lepas dari kontrol orang tua atau saudaranya sehingga penyakit hikikomori berkembang lebih parah dan lebih lama untuk sembuh dikarenakan faktor tidak ada yang peduli padanya.
Kehidupan jepang kehidupan yang masih memiliki tanda tanya. Disatu sisi terlihat suksesnya negara dalam kreatifitas yang dibangun oleh masyarakatnya, tetapi disisi lain membuat kreatifitas tersebut malah menjerumuskan masyarakatnya pada permasalahan baru seperti munculnya Hikikomori ini. Generasi-genarasi jepang bahkan juga genarasi dunia akan menjadi konsumen dari kreatifitas pembuat masalah ini. Tentunya, kontrol dari orang berpengaruh seperti keluarga, saudara, dan teman akan membantu seseorang agar tidak terlena dalam dunia kreatifitas mutakhir tersebut. Bersikap tidak peduli hanya akan merusak generasi bahkan akan memperparah kehidupan Jepang selanjutnya. Seharusnya, sebagai pihak yang memiliki kuasa terhadap ini sudah seharusnya pemerintahan Jepang memiliki Badan Konsultasi Kesejahteraan Sosial yang menjadi wadah umum untuk masyarakat yang dirasa memiliki potensi munculnya penyakit atau pengaruh yang tidak diinginkan.
Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia tidak lepas dari penyakit yang datang dari jepang ini. Sebab arus deras globalisasi telah membawa kreatifitas tersebut ke negara miskin ini. Dengan sistem ekonomi liberal dan kebijakan negara yang kapitalis tentu tidak memandang ini sebagai ancaman berarti, sehingga tidak mungkin menolak atau menghentikan arus globalisasi dari Negara Sakura tersebut. Indonesia terkena imbasnya yang tidak hanya tertutup pada generasi dari golongan “beruang” saja. Saat ini telah mulai populer penyakit ini di antara siswa, pelajar, dan mahasiswa. Diantara mereka terdapat banyak yang memiliki kehidupan lain, kehidupan di dunia maya fantasi. Beberapa diantara mereka hampir selalu menghabiskan waktu di tempat-tempat online atau di dalam kamar. Hal itu terbukti dari menjamurnya warung-warung game online di sekitar siswa-siswa pelajar.
Tidak jarang diantara orang tua malah memfasilitasi anaknya dengan meminjamkan laptop, hp, android, tap, dan sebagainya, tetapi juga tidak jarang membelikan untuknya. Akibatnya, kehidupan hedonis individualis ini semakin teraplikasi. Kehidupan genarasi penerus telah teracun oleh kefokusan pada kehidupan maya. Mereka merasa lebih memiliki tantangan di dunia online dari pada dunia offline yang terlihat biasa-biasa saja. Akibatnya sikap prioritas lebih pada dunia dalam kamar atau dalam warung internetnya. Menghabiskan waktu berjam-jam, bermalam-malam, bahkan hingga bertahun-tahun. Tentu hal ini akan memperparah kehidupan generasi terutama yang berasal bukan dari darah “beruang”. “Sudah jatuh namun juga ikut tertimpa tangga” merupakan pribahasa yang cocok untuk menggambarkan keadaan masyarakat dari golongan yang kurang mampu atau miskin yang mayoritas di negara ini.
Untuk terlepas dari permasalahan ini dibutuhkan tiga elemen sosialisasi yang dijelaskan oleh Selo Soemarjan dalam bukunya “Kritik Sosial Masyarakat”. Tiga elemen tersebut adalah keluarga, teman sebaya, dan masyarakat. Permasalahannya adalah ketiga agen sosialisasi tersebut tidak dapat mengarahkan pada kehidupan sebenarnya yang terlepas dari dunia online dan malah memfasilitasi, seperti seorang anak yang keluarganya melepaskan kontrol terhadap benda-benda eletronik padanya, atau berteman dengan teman bermain yang juga mencintai game, anime, dan manga secara bebas, ditambah lingkungan dan perkembangan teknologi yang memanjakan game online, anime, dan manga yang menjamur di setiap sudut kota yang sangat mudah diakses. Jika ketiga element tersebut tidak berfungsi lagi maka runtuhlah solusi yang pernah diberikan oleh Selo Soemarjan tentang agen sosial.
Satu hal sebenarnya yang masih kita punya untuk mengubah semua ini yaitu “harapan”. Harapan menhasilkan sebuah ide yang butuh aplikasi untuk melihat hasilnya. Harapan itu yaitu kehidupan generasi penerus yang lebih baik dari generasi selanjutnya, generasi yang lebih disibukan oleh hal-hal yang penting, generasi yang berjibaku dalam dunia positifnya, generasi tangguh, bermental kuat, serta beriman yang menjadi kebanggaan yang pernah ada dalam sejarah. Ide dari semua itu tidak lepas dari memisahkan pendidikan dari kepentingan ekonomi sang penguasa dan pengusaha. Banyak negara memandang pendidikan sebagai jalan seorang siswa untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus dengan gaji tinggi, tanpa berfikir untuk membuat emosi antara pendidikan dengan kehidupannya. Sehingga seorang yang tidak memiliki kehidupan pendidikan formal dianggap tidak bisa memiliki pekerjaan atau kehidupan lebih baik. Secara sejatinya pemaham seperti itu telah salah dari sisi filosofi tujuan pendidikan sebenarnya.
Lalu apa sistem pendidikan yang memisahkan antara kepentingan ekonomi? Itu adalah pendidikan dimana mempersiapkan siswanya menjadi manusia yang mengetahui makna hidup dan berani untuk hidup sebagai manusia. Manusia yang menikmati hidup walau susah, walau sulit, walau sempit, tetapi menikmati semua itu dengan sadar akan makna dari sebuah kehidupan. Tentu saja sebelum sadar akan arti kehidupan banyak pertanyaan yang harus mereka dapatkan dari sekolah seperti asal manusia, tujuan manusia, serta kemana manusia setelah mati. Secara lahiriah dengan modal jawaban pertanyaan tersebuat manusia tidaklah mau memiliki mental lembek dan melakukan berbuat sia-sia dalam kehidupan yang sebenarnya ladang perjuangan baginya.
Aplikasi ide dari sistem pendidikan tersebut tidak lain adalah dengan menggunakan kebijakan negara sebagai pemegang kekuasaan tertinggi yang dapat mempengaruhi dunia pendidikan saat ini ketika agen sosialisasi telah musnah secara teori membawa seorang manusia menjadi manusia. Merumuskan sistem pendidikan  dengan menjadikan generasi manusia yang dapat menjawab makna sesungguhnya dari kehidupan ini. Dengan begitu, generasi selanjutnya tidak lagi terlena dengan kreatifitas yang menyebabkan masalah bahkan bisa menjadi leader dari mengubah balik arus globalisasi ke araf positif yang lebih bermanfaat. Dan saat itu, Hikikomori hanya menjadi teori penyakit yang tidak teraplikasi karena kehidupan yang telah berubah dan terlepas dari hal-hal yang membuat individu hedonis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar