There was an error in this gadget

Sunday, 20 November 2016

TRYING CHANGE POLITICAL ISSUE

on November 19th, many people did Bhineka Festival showed culture and something just for having fun. But, if we look about deep inside this parade financed just for being issue and take down political islamic issue that plea for insulting al Qur'an case. In politics, this is the way how to brainstorming idea.

Until today, November 20th, many broadcasting company release some information about varying culture in Indonesia. one of them is iNews, one company in broadcasting, showing information about culture that people almost forgot it. at 8 today, I watch by myself and I feel something important for this company to change mindset of indonesian being. "we have to respect about plurality".

In the other hand, this moment Islam as religion had been insulted by Jakarta's major. After the major was caught as suspect, people were disappointed because the major not going to jail as same as other case about penal code.

From this case, people who on the back stage of Bhineka Festival want to change political Issue to something else that show tolerance specially to minority. So, they try blow it up. As far as we know from this strategy who the "people" is. Just one answer for it, minority. They want live safe here but because of major who one of ethnic minority insulted al Qur'an, so they feel it is danger atmosphere. 

Thursday, 10 November 2016

Gelisah dan Geliat Politik Jakarta Menuju Pemilukada 2017

Beberapa hari yang lalu tepatnya 4 November 2016, Indonesia digoncang oleh demonstrasi nasional dalam tuntutan untuk mengadili Ahok (Gubernur tahun berjalan). Tuntutan itu terjadi terkait dengan ucapan Ahok yang tidak pada tempatnya ketika mengisi suatu pertemuan di pulau seribu. Perkataan seperti "Dibohongi pakai al Maidah 51" menjadi trend topik saat ini. Tidak hanya itu tetapi Ahok juga menyatakan kata-kata "dibodohi" masih dalam konteks maksud ayat yang sama.
Tujuan maksud hanya untuk memperjelas kelancaran proyek tanpa terpengaruh oleh pemilu, perkataan itu menjerat Ahok untuk berhadapan dengan mata hukum Indonesia. Ahok harus mempertanggungjawabkan perkataannya serta mendapatkan hukuman atas tindakannya yang dinilai menistakan agama Islam. Indikasi ke arah itu sudah terlihat, namun aneh Bareskrim tidak menetapkan Ahok sebagai pihak yang bersalah. Sehingga Ahok tidak mendapat proses hukum seperti hanya seharusnya seorang penista agama dalam negara ini.
Dengan alasan minta maaf, Ahok merasa masalah itu sudah selesai sehingga tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi Ahok menduga bahwa upaya dalam membesarkan kasus ini adalah dorongan dari lawan politiknya yang pengecut. Dia juga menambahkan bahwa hal ini kerap kali dia hadapi dimana lawan politiknya menggunakan unsur SARA untuk menjatuhkannya. Sikap optimis Ahok terlihat dengan meneruskan kampanye kebeberapa daerah tanpa mempedulikan kasus tersebut.
Permasalahan memuncak dengan terjadinya demonstrasi nasional tanggal 4 November itu. Berbagai elemen lembaga masyarat menunjukan ketidak-setujuan dengan sikap Kapolri dan Presiden seolah-olah melindungi Ahok. Tidak hanya lembaga masyarakat tetapi juga masyarakat sipil ikut  bahkan dari berbagai provinsi.
Ahok yang dinilai telah melakukan kesalahan berdasarkan analisa politik dengan isu politik yang berkembang di sekitar ibu kota memiliki garis merah pada bentuk taraf berfikir Ahok yang mulai gelisah ketidak dirinya dihadapkan pada jutaan mayoritas muslim di Jakarta ketika pemilukada nanti. Semua itu pada dasarnya telah lama terjadi, hanya saja memuncak ketika akan diadakannya pemilukada. Ahok yang notabene adalah kristen secara terus menerus mendapat serangan secara tersirat maupun langsung. Seperti halnya muncul kampanye-kampanye "Anti Pemimpin Kafir" yang tidak hanya di Indonesia bahkan di seluruh Indonesia oleh ormas HTI (Hizbut Tahrir Indonesia). Kampanye ini diperpanas dengan aksi video-video mahasiswa yang sempat dilirik oleh Ahok. Sehingga anti pemimpin kafir mencari wacana bersertakan dengan dasar-dasar yang menguatkan seperti surat al Maidah 51 salah satunya.
Tentu hal itu menjadi perhatian Ahok, sehingga pembelajarannya dengan besertakan tim suksesnya memberikan pandangan nyata medan politik yang berlangsung pada 2017. Terlepas dari beberapa partai yang mendukung Ahok seperti PDI dan PPP yang dirasa cukup meyakinkan kemenangan dirinya, Ahok memandang dasar bagi seorang muslim dalam memilih pemimpin kafir seperti dirinya cukup membuatnya harus gelisah berat.
Pada kondisi pemikiran yang gelisah terhadap isu yang berkembang ditambah dengan kebiasaan Ahok dalam berkata di depan publik yang sering kurang "sopan" hanya akan menunggu waktu kapan penistaan agamanya itu akan terjadi. Akhirnya terjadi penistaan itu dengan pemicu situasi yang dia harus menjelaskan kelancaran proyek di kelupaulan seribu.
Jika dilihat secara sepihak, sangat jelas sikap tendesius Ahok memicu penistaan terhadap agama. Hanya saja dia berada pada jebangan psikologis yang membuat dia tersudutkan oleh isu yang berkembang yaitu "haram pemimpin kafir". Jika dilihat secara seksama ucapan Ahok pun dalam menistakan agama Islam adalah suatu kalimat penekatan bukan kalimat inti.
Berdasarkan perbuatan tersebut baik dalam konteks sedang dalam kegelisahan atau dalam tekanan apapun seorang yang berani harus mempertanggung-jawabkan pernyataannya terhadap apa yang dia ucapkan karena disanalah nilai dari seorang manusia. Adapun secara tekanan psikologis yang dihadapi, itulah tantangan bagi seorang pemimpin. Jika dia takut bersalah dimana semua orang pun bisa salah, maka tidaklah dia bijak dan tidak dapat mengambil pelajaran dari kesalahannya.